Selasa 10 Oct 2023 07:39 WIB

Riset: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Menguat Akhir 2023

Indonesia saat ini memiliki suku bunga riil tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (22/9/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (22/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2023 diproyeksikan masih cukup menjanjikan di tengah sejumlah tantangan global saat ini. Hal itu seperti periode pemulihan pascapandemi China, kenaikan suku bunga The Fed, lemahnya sektor semikonduktor, serta prospek pesimis perekonomian ASEAN. 

Hasil riset Oxford Economics oleh Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menunjukkan, perlambatan pada pertumbuhan akan semakin terlihat pada kuartal ketiga meskipun pertumbuhan PDB pada kuartal sebelumnya cukup baik.

Baca Juga

Pertumbuhan di ASEAN-6 yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam diperkirakan akan mencapai 3,6 persen pada paruh kedua 2023, turun dari 4,2 persen pada paruh pertama dan 5,7 persen pada 2022.

Sedangkan Indonesia diprediksi akan tumbuh 5,1 persen di tahun ini, konsisten dengan tren historis pertumbuhan sebelumnya. Setelah itu, perlambatan ringan ke angka pertumbuhan 4,7 persen dapat terjadi di tahun depan jika meninjau adanya hambatan eksternal, yaitu dampak pengetatan moneter yang masih berlanjut. 

 

“Jika melihat tingkat perlambatan ekonomi global, termasuk ASEAN, prospek akan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kuartal terakhir menunjukkan potensi yang cukup baik,” kata Director for China and Southeast Asia ICAEW, Elaine Hong, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/10/2023). 

Ia mengatakan, melalui riset Oxford Economics tersebut, diharapkan setiap prospek dapat menjadi cerminan upaya yang tepat dan mampu memberikan penanganan responsif yang dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi ASEAN di masa depan yang lebih baik dan stabil.

Meski proyeksi pertumbuhan pada kuartal IV tahun ini diprediksi tumbuh, kondisi perekonomian kuartal III kemungkinan akan tumbuh melambat. Tercatat, laju pertumbuhan pada kuartal I 2023 sebesar 5 persen year on year (yoy) dan naik pada kuartal II menjadi 5,2 persen yoy. 

Elaine menjelaskan, kemungkinan perlambatan pada kuartal III yang melambat diakibatkan oleh sejumlah hambatan. Didasari pada pemulihan ekonomi Tiongkok pasca pandemi yang melambat, sehingga menyebabkan perkiraan pertumbuhan konsensus diturunkan dengan cepat. 

“Selain itu, dampak penuh dari kenaikan suku bunga Federal Reserve AS sebesar 550 basis poin dan dampaknya terhadap suku bunga ASEAN, belum sepenuhnya dapat dirasakan. Harga semikonduktor yang lemah juga mempengaruhi negara-negara seperti Singapura dan Malaysia,” ujarnya. 

Lebih lanjut, ia menambahkan, Indonesia saat ini memiliki salah satu suku bunga riil tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Pengetatan moneter yang masih berlanjut diharapkan akan memberikan tekanan lebih lanjut dalam beberapa kuartal mendatang. 

Dampaknya tidak hanya akan terasa pada investasi, terutama di sektor konstruksi, tetapi juga pada pinjaman rumah tangga, yang dapat berdampak pada konsumsi swasta. Ini adalah tantangan utama yang perlu diatasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Sementara itu, perlambatan ekonomi global yang diperkirakan terjadi pada semester kedua 2023 dan awal 2024 dapat berdampak pada penurunan permintaan terhadap barang-barang Indonesia. China, sebagai salah satu tujuan utama ekspor Indonesia, menghadapi perlambatan pertumbuhan, yang dapat menjadi penghalang tambahan. 

“Namun, sektor jasa, terutama pariwisata, diharapkan dapat membantu menopang total ekspor,” katanya.

Ia menambahkan, meskipun terdapat peningkatan inflasi 3,3 persen yoy pada Agustus, yang sebelumnya di bulan Juli sebesar 3,1 persen, akan tetapi angka ini masih berada dalam rentang target bank sentral. Hal ini, menurut Elaine, dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan, yang dapat membantu mendukung pertumbuhan ekonomi. 

“Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, pemerintah dan pelaku ekonomi di Indonesia harus tetap waspada dan responsif terhadap perubahan dalam dinamika global,” ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement