Senin 25 Sep 2023 16:41 WIB

Gelar KTT Perdana, Luhut Ingin Indonesia Ditiru Negara Kepulauan Dunia

Indonesia akan berbagai pengalaman dengan berbagai negara kepulauan.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Foto: Republika/ Intan Pratiwi
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konferensi Tingkat Tinggi Archipelagic and Island States (KTT AIS) 2023 segera digelar pada 11 Oktober mendatang. Konferensi untuk pertama kalinya akan digelar dengan kehadiran sejumlah kepala negara kepulauan di dunia. 

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dari 46 negara kepulauan hingga kini ada 10 kepala negara yang mengkonfirmasi akan hadir dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut. 

Baca Juga

Pada forum tersebut, ujar Luhut, Indonesia akan berbagai pengalaman dengan para negara kepulauan yang notabene merupakan negara berkembang. Oleh sebab itu, pihaknya turun mengundang United Nation Development Program (UNDP) untuk menjadi mitra.  

Indonesia memberanikan diri menjadi penyelenggara karena mulai dikenal oleh dunia. Dirinya pun ingin agar berbagai kebijakan pembangunan Indonesia dapat ditiru oleh negara lainnya. Seperti kebijakan hilirisasi, digitalisasi, hingga program dana desa untuk pembangunan perdesaan.

 

“Kita ingin tularkan lesson and learn dari kita ke negara-negara lain. Ini umumnya negara berkembang. (Yang kita dapat) ya dari negara kepulauan itu bisa mengenali kita, banyak yang tidak tahu Indonesia,” kata Luhut dalam Forum Merdeka Barat, Senin (25/9/2023). 

Luhut mengatakan, dari pertemuan tersebut banyak kerja sama yang akan terbuka antar negara berkembang. Dirinya pun ingin agar kerja sama yang terbangun bisa bersifat konkret meski nilainya tak besar. 

“Di forum-forum Internasional kan sampai triliunan dolar, kita tidak usah seperti itu. Kecil-kecilan saja, 5 juta dolar, 10 juta dolar, tapi konkret. Misalnya untuk penanganan sampah laut, terumbu karang, penanaman mangrove, sampai perikanan,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, Luhut mengatakan, Indonesia juga mengajak negara kepulauan berkembang di dunia untuk mulai memikirkan isu perubahan iklim bersama, khususnya dari aspek kelautan. Pasalnya, pemanasan global yang terjadi di mana temperatur suhu udara naik 1,5 derajat celsius bisa berdampak pada tenggelamnya pulau-pulau kecil. 

“Negara-negara pasifik banyak juga yang penduduknya cuma puluhan ribu, kalau permukaan air naik itu bisa hilang. Makanya kita juga ingin sharing tentang replanting mangrove, itu sangat bermanfaat,” ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement