Selasa 05 Sep 2023 12:23 WIB

Cara Ledy Wujudkan Cita-cita Bekerja di Belanda

Bekerja di negeri orang memberikan tantangan dan pengalaman baru.

Rep: Friska Yolandha/ Red: Gita Amanda
Bekerja di luar negeri sudah menjadi cita-cita Ledy Iksarina (28 tahun) sejak duduk di sekolah dasar (SD).
Foto: Sadly Rachman /Republika
Bekerja di luar negeri sudah menjadi cita-cita Ledy Iksarina (28 tahun) sejak duduk di sekolah dasar (SD).

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM -- Bekerja di luar negeri sudah menjadi cita-cita Ledy Iksarina (28 tahun) sejak duduk di sekolah dasar (SD). Menurut dia, bekerja di negeri orang memberikan tantangan dan pengalaman baru.

Keinginan itu ia wujudkan tatkala mendapatkan informasi terkait program capacity building yang digelar atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Belanda untuk profesi perawat. Tanpa pikir panjang, Ledy pun mengikuti program tersebut.

Baca Juga

Selain bekerja, peserta yang ikut capacity building ini juga diberikan beasiswa untuk studi bachelor. "Padahal, pada saat itu saya sudah menyelesaikan program sarjana," kata Ledy saat ditemui Republika.co.id, Ahad (3/9/2023) lalu.

Ledy akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan home care, yaitu perusahaan yang menyalurkan perawat bagi pasien-pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Di sela pekerjaan itu, Ledy menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa keperawatan di Avans Plus Hoge School.

 

Ledy memilih Belanda bukan tanpa alasan. Belanda adalah salah satu negara dengan sistem kesehatan terbaik di dunia. Dengan studi dan bekerja di Belanda, ia akan mendapatkan gambaran bagaimana sistem kesehatan itu berjalan secara merata dan inklusif untuk semua kalangan.

Selain itu, Belanda juga memiliki sejarah yang sangat panjang dengan Indoneesia. Ia merasa tidak akan terlalu sulit beradaptasi di negara tersebut. "Tapi, ternyata saya salah, saya tetap harus beradaptasi dengan banyak hal di Belanda," ujar perempuan asal Lhokseumawe ini.

Selain perbedaan waktu, Ledy merasa sedikit kesulitan dengan komunikasi, terutama bahasa. Meskipun sudah dibekali pelatihan Bahasa Belanda, Ledy merasa tetap merasa kurang memahami karena adanya perbedaan antara teori dan praktik di lapangan. Namun, kesulitan itu sedikit demi sedikit berkurang dengan jam terbang selama di Belanda.

Namun, jetlag yang dialaminya tidak terlalu lama. Ledy cepat beradaptasi dengan kondisi di Belanda. Hal ini karena sudah banyak produk Indonesia yang dijual di Belanda. Ia bahkan juga mudah sekali menemukan bahan-bahan dan rempah asal Indonesia untuk diolah menjadi masakan.

"Atau kalau mau beli makanan jadi yang khas Indonesia juga banyak dijual," katanya.

Di sisi lain, Ledy mengakui, bekerja di luar negeri memberikan pemasukan yang lebih baik baginya. Ia pun bisa menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung dan berinvestasi.

Sebelum berangkat ke Belanda dua tahun lalu, Ledy memilih PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sebagai bank yang akan membantunya bertransaksi di Belanda. Menurut dia, kehadiran mobile banking yang lancar akan memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi bahkan di luar negeri sekalipun.

"Biasanya saya sisihkan gaji dan mengirimkan uang melalui BNI ke orang tua untuk diinvestasikan. Selama mobile banking lancar, transaksi apapun bisa dilakukan," ujar bungsu dari tiga bersaudara ini.

Ia berharap, perbankan nasional, khususnya BNI dapat meningkatkan layanannya di Belanda. Hal itu menurutnya penting untuk membantu diaspora Indonesia dalam bertransaksi dan mengirim uang ke Indonesia. Apalagi, jumlah diaspora Indonesia di Belanda cukup besar.

"Digitalisasi penting bagi perbankan. Selama mobile banking lancar, semua transaksi keuangan akan lancar pula," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement