REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Contemporary Amperex Technology Limited (CATL) menegaskan keseriusannya membangun ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia melalui kemitraan strategis dengan Grup MIND ID. Produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia itu mengambil peran sentral dalam pengembangan industri baterai nasional yang terhubung dari hulu hingga hilir.
Komitmen tersebut dijalankan bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesian Battery Corporation (IBC) di bawah koordinasi MIND ID sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral dan transisi energi nasional. Kolaborasi ini menempatkan Indonesia sebagai basis penting dalam peta pengembangan industri baterai global.
Direktur Utama PT Contemporary Battery Indonesia (CBL Indonesia) Wu Zhihui menyampaikan, proyek pengembangan fasilitas manufaktur baterai di Karawang, Jawa Barat, menjadi wujud konkret dari kerja sama tersebut. Fasilitas ini merupakan bagian dari Proyek Dragon yang dikembangkan melalui perusahaan patungan konsorsium CATL, IBC, dan ANTAM.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin membangun rantai pasok baterai terintegrasi di Indonesia, dari manufaktur hingga daur ulang, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis penting dalam ekosistem baterai global,” kata Wu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip Rabu (4/2/2026).
Fasilitas manufaktur di Karawang dirancang untuk mengintegrasikan seluruh mata rantai industri baterai, mulai dari pengolahan material berbasis nikel, produksi sel dan modul baterai, hingga pengelolaan baterai bekas. Model ini diarahkan untuk menciptakan industri baterai yang efisien, berdaya saing global, serta berkelanjutan secara lingkungan.
Pabrik tersebut juga menjadi bagian dari jaringan produksi global CATL yang memasok baterai kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS). Produk yang dihasilkan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor.
Wu menjelaskan, CATL membawa teknologi mutakhir ke Indonesia, termasuk sistem daur ulang baterai berteknologi tinggi melalui anak usahanya, Brunp Recycling. Teknologi ini memungkinkan tingkat pemulihan material hingga 99,6 persen dan mendukung penerapan ekonomi sirkular di industri baterai.
“Bagi kami, baterai bekas bukan limbah, melainkan sumber daya baru. Teknologi daur ulang menjadi kunci agar industri baterai tumbuh secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Sebagai produsen baterai nomor satu dunia, CATL menguasai sekitar 38 persen pangsa pasar global dengan kapasitas produksi ratusan gigawatt hour. Perusahaan ini didukung jaringan riset dan pengembangan serta basis produksi di Asia, Eropa, dan Amerika.
Grup MIND ID bersama ANTAM dan IBC menargetkan pembangunan ekosistem baterai nasional berbasis sumber daya mineral dalam negeri. Langkah tersebut sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi pusat industri baterai dan kendaraan listrik di kawasan, sekaligus memperkuat posisi nasional dalam transisi energi global berbasis keberlanjutan.