Kamis 10 Aug 2023 16:32 WIB

Rupiah Menguat karena Pasar Konsolidasi Jelang Rilis Data Inflasi AS

Data ini akan memberi persepsi masa depan kebijakan The Fed.

Warga mengantre menukarkan uang pecahan baru di Pasar Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (29/3/2023).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Warga mengantre menukarkan uang pecahan baru di Pasar Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (29/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyampaikan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan karena pasar melakukan konsolidasi menjelang data inflasi konsumen AS Juli 2023 akan dirilis malam ini.

"Data ini (yang bakal dirilis) akan memberikan persepsi baru soal masa depan kebijakan moneter AS. The Fed menegaskan bahwa kebijakan selanjutnya akan bergantung dengan data-data ekonomi terbaru," ujar Ariston ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (10/8/2023).

Baca Juga

Apabila inflasi menunjukkan penurunan di bawah 3,0 persen (angka pada bulan Juni 2023), kata dia, tentu akan mendorong pelemahan dolar AS karena the Fed dapat melonggarkan kebijakan suku bunga tinggi. Begitu pula sebaliknya," ujar Ariston.

Kepala Ekonomi Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pelaku pasar memperkirakan data inflasi konsumen AS sebesar 3,3 persen year on year (yoy) dari bulan sebelumnya 3,0 persen yoy. Adapun inflasi inti diperkirakan 4,7 persen yoy dari bulan sebelumnya 4,8 persen yoy.    

Menurut dia, dolar AS diperdagangkan sideways sepanjang hari menjelang rilis data indeks harga konsumen (IHK) AS. Selama sesi Asia, dolar AS diperdagangkan melemah setelah data inflasi China menunjukkan tren menurun. Adapun selama sesi AS, dolar AS mengalami penguatan nilai tukar.

"Salah satu pendorong utama apresiasi dolar adalah ketidakpastian ketegangan AS-Tiongkok, setelah Joe Biden membatasi investasi AS di China untuk mencegah China mengembangkan teknologi yang dapat mengancam keamanan AS. Kebijakan pembatasan tersebut meliputi pembatasan semikonduktor China, komputasi kuantum, dan AI (artificial intelligence)," ujar Josua.   

Pada penutupan perdagangan hari, rupiah mengalami penguatan sebesar 0,03 persen atau 4 poin menjadi Rp15.185 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.189 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis turut menguat ke posisi Rp15.204 dari sebelumnya Rp15.206. Adapun pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 0,12 persen atau 18 poin menjadi Rp15.207 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.189 per dolar AS. 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement