Kamis 03 Aug 2023 15:16 WIB

Sebanyak 58 Persen dari Kuota Gas LPG 3 Kg Sudah Disalurkan

Proses penyaluran gas LPG bersubsidi 3 kg terus menjadi perhatian.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nora Azizah
Warga antre untuk membeli tabung gas LPG 3kg di Banyuwangi, Jawa Timur.
Foto: Antara/Budi Candra Setya
Warga antre untuk membeli tabung gas LPG 3kg di Banyuwangi, Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) menyampaikan, realisasi penyaluran gas elpiji tiga kilogram telah mencapai 58 persen dari kuota yang ditetapkan pemerintah sebanyak delapan juta metrik ton (MT) pada tahun ini. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, mengatakan, proses penyaluran gas bersubsidi itu menjadi terus perhatian pemerintah. Pengawasan terus dilakukan sembari terus melakukan proses pendataan konsumen yang berhak oleh Pertamina. 

Baca Juga

Adapun pendataan dilakukan oleh pihak pangkalan, sejauh ini telah diperoleh data 6,7 juta konsumen yang berhak membeli elpiji melon karena masuk ke dalam kategori tidak mampu. 

“Pemerintah sedang betul-betul mengawasi dan ini sudah dilakukan. Tujuan dari pengawasan ini adalah agar elpiji dengan harga murah ini bisa sampai ke masyarakat miskin,” kata Tutuka dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/8/2023). 

 

Ia mengungkapkan, terjadi fenomena konsumsi elpiji subsidi itu dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, konsumsi elpiji melon yang seharusnya untuk masyarakat yang membutuhkan terus meningkat dari tahun ke tahun, sebaliknya konsumsi elpiji non subsidi justru mengalami penurunan. 

“Pertumbuhan konsumsi elpiji PSO (penugasan/subsidi) naik empat sampai lima persen per tahun, sedangkan non PSO turun 10 persen per tahun,” ujar dia. 

Selain akibat adanya migrasi konsumen, Tutuka menyebut faktanya juga ditemukan praktik pengoplosan gas dan telah ditindak. Di mana elpiji bersubsidi dimasukkan ke tabung non subsidi untuk mendulang keuntungan pribadi.

Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) Alfian Nasution, menyampaikan, ketahanan pasokan elpiji melon masih berkisar 14-15 hari. Ia memastikan ketahanan pasokan hingga akhir tahun akan dijaga pada level tersebut. 

Adapun sepanjang Juli 2023, ia mencatat realisasi penjualan mencapai 700 ribu MT atau naik sekitar lima persen dari penjualan Juni yang sebesar 690 ribu MT. 

“Ketahanan stok akan terus dilakukan baik produksi dalam negeri maupun impor dan kami yakin bisa menahan di posisi 14-15 hari,” ujar dia. 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement