Jumat 21 Jul 2023 20:37 WIB

BKPM Catat Investasi Semester I 2023 Serap 849 Ribu Tenaga Kerja

Tingginya penyerapan tenaga kerja karena meningkatnya jumlah investasi.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha
Foto udara Simpang Susun Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/4/2022). BKPM mencatat realisasi investasi semester I 2023 mencapai Rp 678 triliun.
Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Foto udara Simpang Susun Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/4/2022). BKPM mencatat realisasi investasi semester I 2023 mencapai Rp 678 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat serapan tenaga kerja dari realisasi investasi sepanjang semester I 2023 sebesar Rp 678,7 triliun, mencapai 849.181 orang. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan tingginya serapan tenaga kerja, khususnya pada periode kuartal II 2023 sebanyak 464.289 orang, karena meningkatnya jumlah proyek investasi, yang berimbas pada capaian total serapan sepanjang paruh pertama tahun 2023 ini.

"Lapangan pekerjaan tambah banyak karena proyeknya banyak. Jumlah proyeknya naik, selisih proyek dari kuartal pertama dengan kuartal kedua itu naiknya, selisihnya sekitar 800 proyek," kata Bahlil dalam konferensi pers realisasi investasi kuartal II 2023 di Jakarta, Jumat (21/7/2023).

Baca Juga

Bahlil mengungkapkan selain meningkatnya jumlah proyek investasi, kenaikan serapan tenaga kerja juga karena adanya kebijakan pemerintah mendorong pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh manusia.

"Kami memaksakan mereka untuk hal-hal yang bisa dikerjakan manusia, kita kasih ke manusia. Karena dalam kondisi begini, kalau lapangan pekerjaan tidak ada, daya beli kita akan susah. Kalau daya beli susah, konsumsi nanti susah," imbuhnya.

Bahlil menuturkan saat ini negara membutuhkan banyak lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran. Terlebih Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi dengan persentase angkatan kerja mencapai 68,63 persen dari total penduduk yang mencapai 274.9 juta.

Di sisi lain, investasi yang masuk saat ini didominasi oleh investasi padat modal atau teknologi tinggi sejalan dengan perkembangan dunia.

"Saya juga berpikir dulu kok padat karya melulu ya. Kita tidak menyiapkan SDM kita. Jadi ini mungkin jebakan Batman juga. Tapi itu sudah terjadi. Jadi apa yang kita lakukan? Yaitu blending (mengkombinasikan) antara tenaga kerja yang padat modal dengan skill (keterampilan) yang tinggi," katanya.

Oleh karena itu, Bahlil mengatakan sudah saatnya kini Indonesia menyiapkan program atau jurusan pendidikan yang dibutuhkan oleh pasar.

"Jangan pasar lari ke kiri, pendidikan kita bikin ke kanan. Itu tidak akan pernah ketemu," katanya.

Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja yang diserap, Bahlil mengatakan ke depannya investor yang masuk akan diidentifikasi berdasarkan bidangnya agar pemerintah setempat bisa menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.

"Pemerintah juga harus memberi kebijakan di mana yang bisa dipadatkaryakan, itu dipadatkaryakan untuk menampung tenaga kerja kita yang skill-nya belum terlalu bagus," imbuh Bahlil.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement