Selasa 04 Jul 2023 14:44 WIB

IMF Sebut Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga

Kinerja perekonomian nasional terpantau positif dengan tekanan inflasi mereda.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha
Tangkapan layar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam konferensi pers RDK OJK Februari 2023, Senin (27/2/2023).
Foto: Tangkapan Layar
Tangkapan layar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam konferensi pers RDK OJK Februari 2023, Senin (27/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan saat ini sektor jasa keuangan terjaga stabil di tengah divergensi perekonomian global. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, berdasarkan hasil Global Bank Stress Test IMF dalam skenario ekonomi memburuk, stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap dapat terjaga baik.

“Hasil ini dengan buffer permodalan dan likuiditas perbankan yang dimiliki diperkirakan mampu menyerap risiko yang muncul,” kata Mahendra dalam konferensi video RDK Bulanan OJK Juni 2023, Selasa (4/7/2023).

Baca Juga

Mahendra menuturkan, sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga stabil dengan permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai. Selain itu, juga kinerja intermediasi yang kembali meningkat di tengah masih tingginya ketidakpastian pada perekonomian dan pasar keuangan global.

Mahendra mengungkapkan, rilis data perekonomian global menunjukkan divergensi perkembangan perekonomian negara-negara utama. Hal itu memunculkan respons kebijakan yang diambil juga menunjukkan divergensi.

 

Di AS, Mahendra melanjutkan, the Fed menahan kenaikan suku bunga kebijakan seiring mulai meredanya tekanan inflasi. Hanya saja, dengan masih ketatnya pasar tenaga kerja di tengah kinerja perekonomian yang di atas ekspektasi, Mahendra mengatakan, the Fed menyinyalkan masih akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Kebijakan untuk menaikkan suku bunga juga ditempuh oleh bank sentral Eropa karena tingkat inflasi di beberapa negara Eropa yang persisten tinggi. “Di China, pemerintah dan bank sentral mengeluarkan stimulus dan menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang terus melemah,” ujar Mahendra.

Sementara di Indonesia, Mahendra memastikan kinerja perekonomian nasional terpantau positif dengan tekanan inflasi mereda. Bahkan, juga kembali ke rentang target Bank Indonesia pada Juni 2023 mencapai 3,52 persen secara tahunan dan turun dari Mei 2023 sebesar 4,00 persen.

Selain itu, Mahendra menyebut, optimisme konsumen meningkat dan kinerja sektor riil juga terpantau positif. “Neraca perdagangan, di tengah penurunan pelemahan harga komoditas utama ekspor Indonesia, juga mencatatkan surplus pada Mei 2023,” kata Mahendra.

Kinerja perekonomian nasional dinilai relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain yang didukung oleh resiliensi sektor keuangan. Mahendra menegaskan, hal itu sesuai rilis laporan Article IV Consultation oleh IMF.

“Kinerja positif perekonomian turut didukung oleh stabilitas sistem keuangan yang solid,” ujar Mahendra. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement