Senin 03 Jul 2023 14:58 WIB

Sektor Manufaktur Jepang Terkontraksi

Perlambatan ekonomi AS, China, dan Eropa rugikan ekspor manufaktur Jepang.

 Pekerja merakit kendaraan di pabrik perakitan mobil di Toyota, dekat Nagoya, Jepang tengah, 08 Desember 2017 (diterbitkan kembali 01 Maret 2022) (ilustrasi).
Foto: EPA-EFE/FRANCK ROBICHON
Pekerja merakit kendaraan di pabrik perakitan mobil di Toyota, dekat Nagoya, Jepang tengah, 08 Desember 2017 (diterbitkan kembali 01 Maret 2022) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Aktivitas manufaktur Jepang terkontraksi pada Juni akibat rendahnya pesanan barang-barang di tengah perlambatan ekonomi global. Padahal, manufaktur Jepang sempat meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada Mei.

Indeks manajer pembelian (IPM) Manufaktur au Jibun Bank Jepang terakhir berada di 49,8, kembali di bawah ambang batas 50,0. Angka 50,0 merupakan memisahkan pertumbuhan dan kontraksi.

Baca Juga

Pada Mei, angka IPM Manufaktur Jepang 50,6. Output dan pesanan baru -- subindeks yang merupakan mayoritas indeks utama -- turun kembali ke level kontraksi dan mengakhiri rebound singkat yang didukung oleh peningkatan kepercayaan bisnis.

"Permintaan barang yang lemah, terutama semikonduktor, di samping masalah kesesuaian tenaga kerja membebani volume penjualan dan output," kata Usamah Bhatti dari S&P Global Market Intelligence, yang menyusun survei tersebut, dilansir Reuters, Senin (3/7/2023).

Pesanan baru dari pelanggan luar negeri menurun pada tingkat tercepat dalam empat bulan. Kondisi itu terutama mencerminkan lemahnya permintaan dari China, mitra dagang terbesar Jepang.

Pembacaan PMI yang lemah terjadi setelah data pemerintah pada Jumat kemarin menunjukkan produksi manufaktur Jepang turun lebih dari yang diharapkan pada Mei, terbebani oleh kekurangan suku cadang dan pengurangan produksi pembuat mobil. Berkat aktivitas sektor jasa yang berkembang dan kebijakan moneter yang sangat longgar, Jepang telah berhasil meredam dampak dari memburuknya kondisi ekonomi global. Namun, perlambatan ekonomi AS, China, dan Eropa merugikan sektor manufaktur Jepang yang bergantung pada ekspor.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement