Rabu 14 Jun 2023 09:36 WIB

Harga Beras Sentuh Rp 11.980 per Kilogram

Kondisi stok beras saat ini disinyalir bukan jadi penyebab fluktuasi harga beras.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha
Pekerja memikul karung berisi beras di Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (24/2/2023). Harga beras medium di pedagang eceran kembali mengalami kenaikan
Foto: Antara/Yudi
Pekerja memikul karung berisi beras di Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (24/2/2023). Harga beras medium di pedagang eceran kembali mengalami kenaikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada Rabu (14/6/2023) pagi, terpantau harga beras medium di pedagang eceran kembali mengalami kenaikan. Harga rata rata beras nasional saat ini di angka Rp 11.980 per kilogram setelah selama sepekan kemarin berada di harga Rp 10.000 - Rp 11.000 per kilogram.

Kemarin di DPR, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan kenaikan harga beras dinilai wajar. Meski begitu, alasan Syahrul mengacu pada harga beras di negara lain tanpa melihat dampak kenaikan harga dan tingkat daya beli masyarakat.

Baca Juga

"Jadi kalau harga naik, kalau saya ditanya sebagai Mentan ini harga yang wajar. Harga beras di Indonesia saat ini termurah di dunia," kata Syahrul di Komisi IV DPR RI, Selasa (13/6/2023).

Syahrul menjelaskan harga beras yang wajar ini akan memberikan dampak pada kenaikan kesejahteraan petani. Namun, justru data menunjukan GKP di Tingkat Petani pada Rabu ini kembali turun ke harga Rp 5.310 per kilogram. Sedangkan di penggilingan sebesar Rp 5.630 per kilogram.

 

Beras Medium di tingkat penggilingan dibanderol Rp 10.470 per kilogram. Sedangkan di tingkat grosir mencapai Rp 11.480 per kilogram.

Kondisi stok beras saat ini disinyalir bukan jadi penyebab fluktuasi harga beras. Padahal, disatu sisi Indonesia masih bergantung pada impor beras dari Vietnam. Saat ini, Vietnam sendiri memangkas kuota ekspor beras mereka hingga 44 persen.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, mengatakan rencana negara produsen beras Vietnam untuk memangkas ekspor tidak akan membahayakan ketersediaan beras di Indonesia karena kerja sama dengan negara-negara produsen lainnya masih berjalan.

"Insya Allah aman, karena kita kan membicarakan juga ini, tidak terus dengan kita menganggap enteng, tidak. Tapi kita juga antar negara-negara itu kita sudah ada," kata Budi.

Sebagaimana dikutip dari laporan Reuters, Vietnam dikabarkan bakal memangkas ekspor beras tahunannya hingga 44 persen mulai 2030 mendatang. Artinya, ekspor yang biasanya 7,1 ton hanya menjadi 4 juta ton per tahun. Vietnam merupakan negara terbesar ketiga untuk ekspor beras dunia.

Berdasarkan laporan yang mengutip dokumen Pemerintah Vietnam tersebut, pengurangan ekspor dilakukan untuk memastikan ketahanan pangan di dalam negerinya, melindungi lingkungan dan beradaptasi dengan perubahan iklim, serta meningkatkan ekspor beras berkualitas.

Dengan kebijakan ini, ekspor beras Vietnam diperkirakan bakal turun menjadi 2,62 miliar dolar AS per tahun pada 2030, dari sebelumnya mencapai 3,45 miliar dolar AS pada 2022. Saat ini stok cadangan beras Pemerintah Indonesia di Gudang Bulog sebesar 605 ribu ton.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement