Selasa 13 Jun 2023 21:12 WIB

ICMI: Jumlah Pengangguran Indonesia Lebih Banyak dari Penduduk Singapura

Sebanyak 26,16 juta orang di Indonesia berpenghasilan hanya Rp 505.469.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Lida Puspaningtyas
Permukiman padat penduduk di sekitar Sungai Code, Yogyakarta, Kamis (19/1/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi termiskin di Pulau Jawa Jawa per September 2022. BPS melaporkan persentase penduduk miskin di DIY per September mencapai 11,49 persen. Meski demikian, jumlah ini menurun jika dibandingkan pada Maret 2022 yakni 11,34 persen.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Permukiman padat penduduk di sekitar Sungai Code, Yogyakarta, Kamis (19/1/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi termiskin di Pulau Jawa Jawa per September 2022. BPS melaporkan persentase penduduk miskin di DIY per September mencapai 11,49 persen. Meski demikian, jumlah ini menurun jika dibandingkan pada Maret 2022 yakni 11,34 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekertaris CIDES ICMI, Hery Margono mengatakan jumlah pengangguran di Indonesia sangatlah tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 jumlah pengangguran di Indonesia ada sebanyak 8,42 juta orang.

 

Baca Juga

"Jumlah 8,42 juta orang ini lebih besar dari jumlah penduduk Singapura sebanyak enam juta orang. Bayangkan kalau 8,42 juta orang Indonesia itu produktif, kita bisa jadi negara kaya, kenyataannya delapan juta orang itu menganggur," ujarnya dalam Webinar Nasional "Pertumbuhan Ekonomi Pemerataan dan Kemiskinan di Indonesia, Selasa (13/6/2023) malam.

 

 

Saat ini, sambung Hery,  disparitas pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi, kelompok masyarakat berpendapatan sedang dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah di Indonesia sangat luar biasa.

Berdasarkan pendapatan per kapita Indonesia pada 2022 masih ada 26,16 juta orang di Indonesia yang berpenghasilan sebanyak Rp 505.469. Mirisnya, di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak pula orang yang berpenghasilan ratusan juta hingga miliaran setiap bulannya.

 

"Jadi memang kata Pak Jusuf Kalla ada disparitas luar biasa, memang faktanya seperti itu, yang terjadi," ungkapnya.

 

Ia pun mengungkapkan, berdasarkan teori Schumpeter, dalam pertumbuhan ekonomi yang paling banyak memberi sumbangan adalah para wirausahawan. Oleh karenanya, pemerintah harus membimbing dan melakukan pendampingan kewirausahaan masyarakat, karena jiwa kewirausahaan sangat penting untuk membangun negeri.

"Menurut David C McClelland pun menyampaikan negara makmur itu apabila minimal 20 persen penduduknya adalah pengusaha, di tahun 2023 jumlah pengusaha di Indonesia masih di angka 3,18 persen. Oleh karenanya ICMI terus menstimulus peningkatan kuantitas dan kualitas pengusaha muslim yang profesional dan beretika," tuturnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement