Selasa 06 Jun 2023 09:36 WIB

IHSG Dibuka Turun di Tengah Perburukan Data Ekonomi AS

Investor mencerna perilisan data ekonomi AS yang keluar lebih buruk dari ekspektasi.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan jatuh ke zona merah pada pembukaan perdagangan Selasa (6/6/2023).
Foto: Republika/Prayogi
IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan jatuh ke zona merah pada pembukaan perdagangan Selasa (6/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jatuh ke zona merah pada pembukaan perdagangan Selasa (6/6/2023). IHSG melemah ke level 6.603,70 dan memperdalam penurunan sepekan terakhir yang nyaris mencapai satu persen.

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan, pelemahan IHSG ini sejalan dengan pergerakan indeks global. Di Asia, pagi ini indeks dibuka melemah mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street semalam yang ditutup turun tipis.

Baca Juga

"Investor mencerna perilisan data ekonomi AS yang keluar lebih buruk dari ekspektasi menjelang pertemuan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) minggu depan," tulis Phillip Sekuritas dalam risetnya.

Investor memantau dengan ketat setiap rilis data ekonomi untuk mencari sinyal apakah federal Reserve akan melanjutkan kenaikan suku bunga. Data ISM Non-Manufacturing Index turun ke level 50,3 di Mei dari level 51,9 di April.

Data tersebut menandakan ekspansi selama lima bulan beruntun di sektor Jasa. Ini adalah level terendah sejak Mei 2020 dan berada di bawah ekspektasi yanag naik ke level 52,4.

Data Factory Orders memperlihatakan pesanan baru atas barang yang diproduksi di AS naik 0,4 persen MoM di April di tengah besarnya belanja militer.  Namun angka tersebut melambat dari pertumbuhan 0,6 persen MoM yang tercatat di bulan sebelumnya. 

Tanpa memperhitungkan belanja sektor pertahanan, Factory Orders turun 0,4 persen MoM. Tanpa memasukkan pesanan sektor Transportasi yang juga didominasi militer AS, Factory Orders turun 0,2 persen MoM.

Sebelumnya, rilis data Non-farm Payrolls AS akhir pekan lalu memperlihatkan laju kenaikan mulai melambat. Tingkat Pengangguran lompat dari level terendah dalam 53 tahun, 3,4 persen menjadi 3,7 persen bulan lalu.

Rilis data ekonomi AS dalam beberapa hari terakhir ini telah memperkuat harapan Federal Reserve akan melakukan jeda pada siklus pengetatan kebijakan moneter. Pelaku pasar melihat adanya peluang sebesar 79 persen federal Reserve akan menahan kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan 13 -14 Juni yang akan datang.

Lebih lanjut, pelaku pasar meramal 70 persen probabilitas suku bunga acauan Federal Funds Rate (FFR) akana mencapai kisaran 5,25 persen-5,50 persen atau bahkan lebih tinggi lagi pada pada pertemuan kebijakan Federal Reserve di Juli jika tingkat inflasi AS tetap tinggi. Pelaku pasar juga menilai kecil kemungkinan penurunan suku bunga acuan FFR terjadi di akhir tahun ini.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement