Ahad 04 Jun 2023 23:57 WIB

Dua Kali Panen Setahun, Indeks Pertanaman Lahan CSA Kementan Tembus IP 200

Dua kali panen satu tahun dicapai lokasi penyuluhan pertanian CSA wilayah SIMURP

Upaya menekan emisi GRK dilakukan tim CSA di Provinsi Sumatra Selatan, khususnya lokasi kegiatan SIMURP di Kabupaten Banyuasin. Pengujian berlangsung di Desa Mekarsari, Kecamatan Karang Agung Ilir pada hamparan padi seluas 30 hektar, varietas Inpari usia 42 hingga 64 hari setelah tanam (hst).
Foto: dok pusuhtan
Upaya menekan emisi GRK dilakukan tim CSA di Provinsi Sumatra Selatan, khususnya lokasi kegiatan SIMURP di Kabupaten Banyuasin. Pengujian berlangsung di Desa Mekarsari, Kecamatan Karang Agung Ilir pada hamparan padi seluas 30 hektar, varietas Inpari usia 42 hingga 64 hari setelah tanam (hst).

REPUBLIKA.CO.ID, SUBANG -- Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) merupakan target utama Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) meningkatkan produksi padi bagi pemenuhan kebutuhan pangan pokok, melalui Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) di Indonesia.

IP adalah rata-rata masa tanam dan panen satu tahun pada lahan yang sama. Dua kali panen satu tahun dicapai lokasi penyuluhan pertanian melalui Demonstration Plot (Demplot) CSA naik dari 1.93 pada 2021 ke 1.99 tahun 2022 pada lahan Demplot CSA wilayah kegiatan SIMURP. 

Target CSA SIMURP terhadap IP adalah menggenjot dari 100 menjadi 200 dan seterusnya hingga 400 atau empat kali tanam dalam setahun. Program SIMURP mencakup 24 kabupaten di 10 provinsi, dengan tingkat IP berbeda sesuai karakteristik lahan dan sumber daya pendukung lahan pertaniannya di tiap wilayah.

Capaian tersebut disambut antusias oleh Bustanul Arifin Caya, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan ([BPPSDMP) pada Jumat (26/5) di Desa Jatimulya, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang pada kegiatan ´Mid Term Review Mission dan Farmer Field Day (FFD)´ di lokasi CSA SIMURP 2023.

 

Ada tiga hal utama sasaran pencapaian CSA yakni peningkatan IP, produktivitas dan pendapatan sektor pertanian, adaptasi dan membangun ketangguhan terhadap Dampak Perubahan Iklim (DPI), dan berupaya mengurangi hingga meniadakan Emisi Gas Rumah Kaca.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mendorong peningkatan IP di setiap wilayah dapat dilakukan melalui optimalisasi lahan, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, iklim, tanah dan unsur hara secara terpadu serta melalui pola tanam, baik padi maupun tanaman pangan lainya.

"Peningkatan IP dengan mengandalkan pengelolaan air yaitu optimalisasi pengelolaan sumber daya air, dengan  memanfaatkan potensi sumber daya air, air permukaan (sungai, mata air) maupun air tanah," katanya.

Tujuannya, kata Mentan Syahrul, agar petani dapat menanam padi dua kali dalam setahun sesuai dengan ketersediaan airnya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan negara maju di dunia ditentukan oleh sektor pertanian, jika Indonesia ingin menjadi negara maju, pertanian harus dimajukan. 

“Kalau kita ingin pertanian maju, benahi penyuluh dan petaninya. Pengungkit terbesar produktivitas adalah petani dan penyuluh, bukan benih, pupuk atau Alsintan. Untuk mencapai itu pemberdayaan penyuluh dimulai dari BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) di kecamatan," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan penyuluh hebat adalah yang berpikir bagaimana meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Bagaimana mengendalikan hama. Bagaimana bisa dipasarkan dan menguntungkan petani.

Kapusluh Bustanul Arifin Caya mengatakan SIMURP mengintroduksi varietas hemat air, pola tanam, dan pergeseran waktu tanam. Selain pengelolaan lahan, peningkatan indeks pertanaman di suatu lokasi dapat mengandalkan pengelolaan air. 

"CSA SIMURP mengintroduksi teknologi pengelolaan air seperti pompanisasi, pembuatan bak pembagi air, mendukung penyaluran air dari infrastruktur yang sudah ada seperti irigasi," katanya.

Strategi peningkatan IP, kata Bustanul AC, dilaksanakan pada 24 kabupaten di 10 provinsi, dengan SIMURP sebagai 'pengawal teknologi' yang melibatkan kelompok tani (Poktan) dan Gapoktan serta stakeholders didukung dinas terkait di bawah koordinasi Kementan.

"Jika peningkatan IP konsisten dilaksanakan serta direplikasi oleh kelompok tani lain, maka peningkatan produksi padi dapat tercapai pada lokasi kegiatan SIMURP," kata Kapusluh Bustanul AC.

Kegiatan ´Mid Term Review Mission´ CSA SIMURP 2023 dan Farmer Field Day (FFD) di Subang, Jumat (26/5) dihadiri tim PUPR Pusat, Julianto dan Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum; Tim Bank Dunia, Ijsbrand Harko de Jong; Board of Directors Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) David Osborne; General at PMC Retail, Eom Subastian; TA CPIU Komponen B, Yoo serta Koordinator Tenaga Pendamping Masyarakat (KTPM) dan TPM.

Turut hadir Kabid Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemprov Jabar, Kepala Pertanian Kabupaten Subang; Koordinator dan Sub Koordinator Kelompok Lingkup Pusat, serta Penyuluh Pertanian Pusat; Manager, Deputi dan tim Pengelola SIMURP.

Lintas Kementerian

Program SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi lintas kementerian dan lembaga yang melibatkan Kementan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan target lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS).

Kapusluh Bustanul Arifin Caya menambahkan, sektor pertanian tergolong rentan terhadap sejumlah gangguan di antaranya perubahan iklim, pemanasan global, efek rumah kaca, banjir, kekeringan, serta peningkatan permukaan air laut.

"Pertanian Cerdas Iklim pada Program SIMURP adalah pertanian ramah lingkungan, hemat air dan berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman, produktivitas, dan pendapatan petani sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan petani," katanya lagi.

SIMURP, kata Kapusluh Bustanul, berupaya membuka cara pandang bagaimana bertani cerdas iklim yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan dengan berbagai kegiatan.

"Dari kegiatan CSA diharapkan dapat dilakukan edukasi kepada petani yang bergabung dalam kelompok tani, sehingga dapat segera bertani secara cerdas iklim dan  efisien menggunakan air," kata Kapusluh Bustanul AC.

Petani, katanya lagi, diajak dan didorong mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik, menggunakan bibit varietas unggul dan tahan hama, menggunakan pestisida nabati, dan lain sebagainya.

”Intinya, kita mulai berorientasi ke pertanian cerdas iklim dengan mengembalikan kesuburan tanah. Utamanya, untuk menghasilkan produktivitas padi yang tinggi dan sehat tanpa merusak kesuburan lahan," kata Bustanul.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement