Selasa 23 May 2023 23:38 WIB

Menteri Qatar Ingatkan Krisis Energi di Eropa Bisa Lebih Parah

Qatar menilai, saat ini krisis energi yang terburuk di Eropa belum datang.

 Kilang minyak TotalEnergies Leuna dekat Spergau, Jerman, 25 April 2022. Menteri Energi Qatar Saad Al Kaabi memperingatkan krisis minyak dan gas di Eropa berpotensi menjadi lebih parah.
Foto: EPA-EFE/FILIP SINGER
Kilang minyak TotalEnergies Leuna dekat Spergau, Jerman, 25 April 2022. Menteri Energi Qatar Saad Al Kaabi memperingatkan krisis minyak dan gas di Eropa berpotensi menjadi lebih parah.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Menteri Energi Qatar Saad Al Kaabi memperingatkan krisis minyak dan gas di Eropa berpotensi menjadi lebih parah. Al Kaabi menilai, saat ini krisis yang terburuk belum datang. Dia mengatakan, musim dingin yang hangat telah mencegah krisis yang lebih besar dalam beberapa bulan terakhir.

Al Kaabi dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman juga mengatakan, kurangnya investasi dalam minyak dan gas terjadi karena dunia mencoba beralih ke bahan bakar yang lebih bersih untuk mencegah pemanasan global. Langkah itu berisiko menyebabkan krisis energi.

Baca Juga

"Satu-satunya hal yang menyelamatkan umat manusia dan Eropa tahun ini adalah musim dingin yang hangat dan perlambatan ekonomi," kata Al Kaabi kepada Forum Ekonomi Qatar, seperti dikutip Zawya, Selasa (23/5/2023).

Setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu krisis pasokan energi, Eropa terhindar dari masalah serius pada musim dingin yang lalu, terutama karena suhu yang lebih ringan dari perkiraan. Meski begitu, Al Kaabi menilai masalah lebih lanjut akan muncul.

"Jika (pemimpin Eropa memiliki) rencana yang tepat dan duduk dengan produsen, dan perusahaan minyak dan gas tidak dikucilkan, realitas akan muncul dan kami akan memiliki solusi yang masuk akal," kata Al Kaabi.

Qatar telah mengumumkan serangkaian kesepakatan pasokan gas utama dan terlibat dalam pengembangan Lapangan Utara. Lapangan itu mengandung cadangan gas alam terbesar di dunia. Qatar meningkatkan produksinya menjadi 126 juta ton per tahun pada tahun 2027.

Dia menekankan, ada permintaan sangat besar untuk produksi di North Field East dan North Field South yang dapat diikat dalam kesepakatan jangka panjang. "Ada potensi kita akan kehabisan semua gas dari NFE dan NFS pada akhir tahun," katanya. 

Pangeran Abdulaziz dari Arab Saudi juga mengatakan, Eropa diselamatkan oleh karunia Tuhan pada musim dingin lalu. "Keamanan energi sedang dibelenggu. Kami kehabisan kapasitas karena negara-negara tidak berinvestasi dalam minyak dan gas," katanya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement