Senin 15 May 2023 21:15 WIB

Ekonom Citi Prediksi BI akan Turunkan Suku Bunga hingga 5 Persen

Penurunan tersebut diperkirakan akan terjadi secara gradual sebanyak tiga kali.

Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Bank Indonesia diproyeksi akan menurunkan suku bunga acuan hingga lima persen.
Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Bank Indonesia diproyeksi akan menurunkan suku bunga acuan hingga lima persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom Citi Indonesia Helmi Arman memprediksi Bank Indonesia akan menurunkan tingkat suku bunga hingga ke 5 persen pada semester II 2023.

"Kami melihat ada ruang yang terbuka untuk penurunan suku bunga atau pelonggaran kebijakan moneter pada semester II 2023 di Indonesia," kata Helmi di Jakarta, Senin (15/5/2023).

Baca Juga

Helmi menjelaskan penurunan tersebut diperkirakan akan terjadi secara gradual sebanyak tiga kali dengan masing-masing penurunan sebesar 25 basis poin (bps). Ia memproyeksikan penurunan suku bunga akan dimulai pada akhir kuartal III-2023.

Prediksinya tersebut mengacu pada sejumlah faktor. Pertama, pertumbuhan perekonomian Indonesia yang mencapai 5,03 persen pada kuartal I-2023. Terlebih, komponen ekspor berkontribusi besar pada penguatan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada periode tersebut.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor tumbuh sebesar 11,68 persen. Helmi melihat kondisi tersebut belum mengindikasikan kemungkinan terjadinya overheating atau demand pull inflation, yakni harga naik ketika permintaan melebihi penawaran dalam jangka pendek.

Di sisi lain, lanjut Helmi, neraca pembayaran saat ini terlihat jauh lebih baik daripada tahun lalu. Perbaikan tersebut disebabkan oleh harga komoditas yang sempat mencapai puncak tertingginya pada tahun lalu kini telah mulai berbalik, sehingga kemungkinan neraca pembayaran tahun ini tidak akan sebesar tahun lalu.

Selain itu, juga ada perbaikan pada neraca arus modal portofolio ke Indonesia. Helmi melihat arus dana portofolio global yang masuk ke negara-negara berkembang sudah lebih bersahabat bila dibandingkan tahun lalu, terutama bila mengingat the Federal Reverse sudah hampir mendekati puncaknya.

Lebih lanjut, Helmi mengatakan, Indonesia termasuk salah satu negara yang disukai banyak investor. Selain karena inflasi yang mulai mereda, posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga sudah mendekati ke level sebelum pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit APBN 2022 berada di level 2,38 persen dari PDB. Sementara itu, defisit APBN 2019 berada di level 1,84 persen.

Faktor lain yang membuat Indonesia menarik minat investor adalah reformasi struktural perekonomian yang dianggap mampu menjadi bantalan terhadap gejolak-gejolak yang datang dari luar. Berdasarkan sejumlah pertimbangan tersebut, Citi Indonesia memperkirakan BI akan menurunkan tingkat suku bunga.

"Dengan demikian, kami melihat suku bunga acuan di semester II tahun ini menurun ke lima persen dari yang sekarang posisinya 5,75 persen," ujar Helmi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement