Sabtu 13 May 2023 16:17 WIB

Negara Kaya G7, Sepakati Program Vaksin Baru untuk Negara Miskin dan Berkembang

Jepang ingin membangun dukungan dari negara-negara berkembang dalam berbagai isu.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Friska Yolandha
 Bagian dari G7 Menteri keuangan dan gubernur bank sentral melambaikan tangan dalam sesi foto grup pertemuan keuangan G7, di Niigata, Jepang, pada Jumat (12/5/2023). Dari kiri atas ke kanan, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) Mathias Cormann, Presiden Eurogroup Paschal Donohoe, Deputi Gubernur Bank of England Jon Cunliffe, Komisaris Ekonomi Komisi Eropa Paolo Gentiloni, Gubernur Bank Sentral Prancis Francois Villeroy de Galhau. Dari barisan depan dari kiri, Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem, Menteri Keuangan Kanada Chrystia Freeland, Gubernur Bank of Italy, Ignazio Visco, Menteri Keuangan Italia Giancarlo Giorgetti, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda.
Foto: AP Photo/Shuji Kajiyama
Bagian dari G7 Menteri keuangan dan gubernur bank sentral melambaikan tangan dalam sesi foto grup pertemuan keuangan G7, di Niigata, Jepang, pada Jumat (12/5/2023). Dari kiri atas ke kanan, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) Mathias Cormann, Presiden Eurogroup Paschal Donohoe, Deputi Gubernur Bank of England Jon Cunliffe, Komisaris Ekonomi Komisi Eropa Paolo Gentiloni, Gubernur Bank Sentral Prancis Francois Villeroy de Galhau. Dari barisan depan dari kiri, Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem, Menteri Keuangan Kanada Chrystia Freeland, Gubernur Bank of Italy, Ignazio Visco, Menteri Keuangan Italia Giancarlo Giorgetti, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Negara-negara kaya Kelompok Tujuh (G7) akan menyepakati pembentukan program baru untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara berkembang dalam pertemuan puncak para pemimpin minggu depan, surat kabar Yomiuri Jepang mengatakan pada Sabtu (13/5/2023). Selain G7, negara-negara G20 seperti India dan kelompok-kelompok internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia akan berpartisipasi, tambahnya, mengutip sumber-sumber pemerintah Jepang.

Selama pandemi Covid-19, fasilitas vaksin COVAX, yang didukung oleh WHO dan Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI), telah mengirimkan hampir 2 miliar dosis vaksin virus corona ke 146 negara. Namun, COVAX menghadapi kendala dalam memastikan akses yang adil, karena negara-negara kaya memprioritaskan vaksinasi untuk warganya.

Baca Juga

Sementara fasilitas penyimpanan yang tidak memadai di negara-negara miskin menyebabkan penundaan pasokan dan membuang jutaan dosis yang hampir kedaluwarsa. Program baru ini bertujuan untuk mengumpulkan dana darurat untuk produksi dan pembelian vaksin.

"Selain itu juga akan disiapkan investasi dalam penyimpanan bersuhu rendah dan pelatihan petugas kesehatan untuk mempersiapkan pandemi global berikutnya," tulis Surat Kabar Yomiuri.

Jepang, yang tahun ini menjadi ketua pertemuan G7, ingin membangun dukungan dari negara-negara berkembang dalam berbagai isu. Seperti rantai pasokan, ketahanan pangan, dan perubahan iklim untuk melawan pengaruh Cina dan Rusia yang semakin besar.

Pertemuan para menteri keuangan G7 pada hari Sabtu, sepakat untuk menawarkan bantuan kepada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk membantu meningkatkan peran mereka dalam rantai suplai produk-produk yang berhubungan dengan energi.

Pada pertemuan hari Sabtu, para menteri keuangan dan kesehatan G7 menyerukan "kerangka kerja pembiayaan global yang baru untuk menyalurkan dana yang diperlukan dengan cepat dan efisien dalam menanggapi wabah tanpa menumpuk dana menganggur", kata mereka dalam sebuah pernyataan.

G7 akan berkolaborasi dengan WHO dan Bank Dunia, yang mengelola dana pandemi internasional, untuk mengeksplorasi skema pendanaan baru menjelang pertemuan para menteri keuangan dan kesehatan G20 pada bulan Agustus di India, kata mereka.

"Kelompok G7 yang terdiri dari Inggris, Kanada, Uni Eropa, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, sedang mempertimbangkan apakah akan mengeluarkan pernyataan tentang respons pandemi global pada pertemuan puncak 19-21 Mei di kota Hiroshima, Jepang," papar surat kabar Jepang ini. 

 

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement