Senin 17 Apr 2023 14:50 WIB

Christine Lagarde Sangat Yakin Amerika Serikat tak akan Gagal Bayar Utang

Bagaimanapun, AS adalah penopang pertumbuhan ekonomi dunia.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Lagarde sangat yakin AS tidak akan membiarkan negara itu gagal bayar atas utangnya sendiri selama wawancara di sebuah televisi, Ahad (16/4/2023).
Foto: EPA-EFE/FRIEDEMANN VOGEL
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Lagarde sangat yakin AS tidak akan membiarkan negara itu gagal bayar atas utangnya sendiri selama wawancara di sebuah televisi, Ahad (16/4/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde sangat yakin AS tidak akan membiarkan negara itu gagal bayar atas utangnya sendiri selama wawancara di sebuah televisi, Ahad (16/4/2023).

"Saya tidak percaya mereka akan membiarkan bencana besar seperti itu terjadi," kata Lagarde, menambahkan jika gagal bayar utang benar-benar terjadi, itu akan memiliki "dampak yang sangat, sangat negatif", baik di AS maupun di seluruh dunia. 

Baca Juga

"(AS adalah) pemimpin utama dalam pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. AS tidak bisa membiarkan itu terjadi," kata Lagarde dikutip dari CNN, Senin (17/4/2023).

Pemerintah AS berada dalam kebuntuan dalam negosiasi untuk menyelesaikan krisis utang. Jika Kongres tidak membahas plafon utang, AS berpotensi menghadapi gagal bayar pertamanya paling cepat musim panas ini atau paling lambat musim gugur.

Lagarde mengatakan, dia memahami politik, tetapi ada saatnya kepentingan yang lebih tinggi dari suatu bangsa harus menang.

Mantan direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) itu tetap optimistis dengan pemulihan ekonomi global, meskipun The Federal Reserve memberi sinyal adanya resesi ringan akhir tahun ini.

"Jika Anda melihat semua ramalan saat ini, semuanya positif. Proyeksi memang sedikit diturunkan, tetapi secara keseluruhan, kami melihat pemulihan," kata Lagarde.

IMF, di mana Lagarde adalah mantan ketuanya, memiliki pandangan yang lebih suram. Lembaga ini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi melambat dari 3,4 persen pada 2022 menjadi 2,8 persen pada 2023. Perkiraannya pada Januari adalah pertumbuhan bahkan 2,9 persen tahun ini.

"Ketidakpastian tinggi, dan keseimbangan risiko telah bergeser dengan kuat ke sisi negatifnya selama sektor keuangan tetap bergejolak," kata organisasi tersebut dalam laporan terbarunya.

Ekonom memperkirakan, bank semakin berhati-hati dalam meminjamkan uang setelah jatuhnya Silicon Valley Bank pada Maret lalu, meningkatkan kekhawatiran akan krisis kredit.

Lagarde mengatakan, ECB harus mengukur dampak aktivitas bank di AS dan Swiss. Runtuhnya Silicon Valley Bank dan Signature Bank, serta raksasa perbankan Swiss Credit Suisse yang dipaksa untuk bergabung dengan UBS, menimbulkan gejolak di sektor perbankan. "Jika (bank) tidak meminjamkan terlalu banyak kredit, dan jika mereka mengelola risikonya, itu mungkin mengurangi pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mengurangi inflasi," kata Lagarde.

"Tapi jika mereka mengurangi terlalu banyak kredit, itu akan membebani pertumbuhan secara berlebihan," ungkapnya menambahkan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement