Senin 17 Apr 2023 13:05 WIB

Rupiah Tertekan Komentar Hawkish Pejabat The Fed

Komentar hawkish pejabat Fed membuat imbal hasil obligasi AS meningkat.

Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan tertekan komentar hawkish dari beberapa pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan tertekan komentar hawkish dari beberapa pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan tertekan komentar hawkish dari beberapa pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Rupiah pada Senin (17/4/2023) pagi dibuka melemah 57 poin atau 0,39 persen ke posisi Rp 14.762 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya, yakni Rp 14.705 per dolar AS.

"Pejabat AS mengatakan kenaikan suku bunga acuan masih dibutuhkan untuk menurunkan inflasi," ujar Chief Analist DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Baca Juga

Ia menyebutkan, komentar hawkish pejabat Fed membuat imbal hasil obligasi AS meningkat dan dolar AS mengalami rebound. Dolar AS rebound dari level terendah satu tahun di awal sesi Asia pada Senin pagi. Terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, indeks dolar AS naik 0,15 persen menjadi 101,82, berdiri cukup jauh dari level terendah satu tahun pada Jumat (14/4) di 100,78.

 

Sementara itu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga, berdiri di 4,1137 persen, setelah mencapai puncak sekitar dua pekan di 4,137 persen pada Jumat (14/4). Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun berada di level 3,5261 persen.

Beberapa pembicaraan Fed yang hawkish menambah ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dengan Gubernur Fed Christopher Waller dan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menyatakan bahwa Otoritas Moneter AS tersebut dapat menaikkan 25 basis poin lagi bunga acuan pada bulan depan.

Kendati demikian dari dalam negeri, Lukman menuturkan investor akan menantikan data perdagangan Indonesia yang akan dirilis siang ini dan diperkirakan masih akan mengalami surplus perdagangan yang besar. "Rilis data ini bisa menahan rupiah dari pelemahan lebih lanjut dari dolar AS," jelasnya.

Karena itu, ia memprediksi rupiah berpeluang bergerak di kisaran Rp14.750 per dolar AS hingga Rp14.900 per dolar AS sepanjang hari ini.

Pada Jumat (14/4) rupiah ditutup naik 41 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp14.705 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.746 per dolar AS.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement