Rabu 01 Mar 2023 23:54 WIB

Globalisasi ala Indonesia, Erick: Ini Waktunya Indonesia Dihargai Dunia

Erick Thohir menilai Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/2/2023). Di tengah ketidakpastian ekonomi global pascapandemi Covid-19, Menteri BUMN Erick Thohir menilai Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju
Foto: Republika/Prayogi.
Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/2/2023). Di tengah ketidakpastian ekonomi global pascapandemi Covid-19, Menteri BUMN Erick Thohir menilai Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ketidakpastian ekonomi global pascapandemi Covid-19, Menteri BUMN Erick Thohir menilai Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju dengan memanfaatkan globalisasi pasca Covid-19 untuk meningkatkan investasi. 

“Kebijakan ekonomi Indonesia haruslah menjadi kebijakan yang beyond globalization, yaitu globalisasi ala Indonesia,” kata Erick saat berbicara di Economic Outlook 2023 di Jakarta, Selasa (28/2/2023).

Baca Juga

Beyond globalization adalah globalisasi yang memberi kesempatan negara berkembang seperti Indonesia untuk maju. Erick menambahkan, globalisasi ala Indonesia haruslah dilakukan berdasarkan kesepakatan saling menguntungkan, bukan berarti globalisasi kepada semua negara. 

Erick mengatakan, itu pernah dialami Cina pada era 1980-an. Saat itu, Cina menjadi salah satu pusat perekonomian dunia. Sekarang, kata Erick, Indonesia salah satu pusat perekonomian dunia. 

 

“Saya sangat percaya kalau dulu pusat pertumbuhan ekonomi dunia ada China di 1980-an, ini waktunya bagi Indonesia untuk dihargai dunia. Saya tidak ingin Indonesia menjadi Asia’s overlooked giant. Raksasa Asia yang terabaikan,” kata Erick.  

Pandemi Covid-19 dan terganggunya rantai pasokan akibat perang, kata Erick, telah menyebabkan 47 negara menjadi pasien IMF, terbesar dalam sejarah. Sementara Indonesia memiliki pondasi ekonomi yang kuat. Itu tercermin antara lain dari surplus perdagagan di tahun 2022 sebesar 54,53 miliar dolar AS atau tumbuh sebesar 53,96 persen dibandingkan 2021. 

Surplus ini dipengaruhi windfall harga komoditas, dengan komoditas unggulan antara lain batubara, minyak kelapa sawit, serta besi dan baja dengan total ekspor masing-masing sebesar 46,74 miliar dolar AS, 27,77 miliar dolar AS, dan 27,82 miliar dolar AS.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh sebesar 5,31 persen yang ditopang dari sisi domestik melalui Konsumsi Rumah Tangga. Jumlah penduduk dengan pendapatan kelas menengah juga sudah mencapai 31 persen dari total penduduk. PDB per kapita Indonesia juga diproyeksikan meningkat dari 3.800 dolar AS di 2020 menjadi 5.000 dolar AS di 2023.

Dengan keunggulan itu, kata Erick, Indonesia dapat memaksimalkan keuntungan untuk berkolaborasi dengan negara lain. Dengan Jepang, misalnya. Meskipun dikenal sebagai negara maju dengan inovasi teknologi dan etos kerja tinggi, namun Jepang memiliki tantangan ekonomi struktural seperti populasi masyarakat yang menua (aging population) dan deflasi. 

“Jepang membutuhkan tenaga kerja yang muda. Di sisi lain, Indonesia mempunyai tenaga kerja muda yang banyak dan membutuhkan  penciptaan lapangan kerja. Indonesia bisa berkontribusi dalam membantu perekonomian Jepang dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor kesehatan, terutama sebagai perawat untuk kalangan lansia,” ujar pria yang dinobatkan CNBC sebagai Menteri Terbaik 2022. 

Sedangkan untuk Indonesia, Jepang dapat membantu dalam pengembangan infrastruktur logistik seperti pelabuhan dan kereta api, tidak hanya di jalan tol. “Win-win solution ini akan meningkatkan kerjasama ekonomi antar kedua negara,” tambah Erick. 

Begitu juga dengan Cina dan Korea Selatan. Kedua negara itu punya kapasitas produksi dan inovasi teknologi tinggi, namun dengan biaya terjangkau. Indonesia, kata Erick, dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas sumber daya alam seperti hilirisasi nikel untuk membuat komponen baterai listrik dan membangun ekosistem baterai listrik di Tanah Air. 

“Artinya, saya tekankan bahwa Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dengan negara lain dan tidak antiglobalisasi. Tapi kita tekankan globalisasi yang saling menguntungkan. Ekosistem yang berdasarkan Indonesia diberikan kesempatan menjadi negara maju, tidak hanya menjadi menjadi negara berkembang,” kata Erick.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement