Kamis 23 Feb 2023 09:44 WIB

IHSG Menguat Setelah The Fed Pastikan Bakal Kerek Suku Bunga

IHSG menguat ke level 6.810,10 setelah terpangkas cukup tajam pada perdagagan kemarin

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Pekerja membersihkan dinding dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2022). IHSG menguat ke level 6.810,10 setelah terpangkas cukup tajam pada perdagagan kemarin sebesar 0,92 persen.
Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan
Pekerja membersihkan dinding dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2022). IHSG menguat ke level 6.810,10 setelah terpangkas cukup tajam pada perdagagan kemarin sebesar 0,92 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada hari ini, Kamis (23/2/2023). IHSG menguat ke level 6.810,10 setelah terpangkas cukup tajam pada perdagagan kemarin sebesar 0,92 persen. 

Kenaikan IHSG pagi ini ditopang menguatnya sektor transportasi sebesar 1,26 persen, diikuti sektor energi yang meningkat 0,98 persen. Sektor teknologi juga kembali menguat sebesar 0,71 persen.

Baca Juga

IHSG masih berpeluang melemah hari ini. "Hal tersebut sejalan dengan mayoritas bursa utama Wall Street yang ditutup turun dengan Dow melemah 0,26 persen dan S&P turun 0,16 persen," kata Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Kamis (23/2/2022).

Risalah dari Federal Open Market Committee (FOMC) pada 31 Januari-Februari mengatakan hampir semua pejabat The Fed setuju untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga menjadi seperempat poin persentase. 

 

The Fed melihat risiko inflasi yang tinggi tetap menjadi faktor kunci yang akan membentuk kebijakan moneter bank sentral. Kenaikan suku bunga lebih lanjut akan diperlukan sampai laju inflasi terkendali.

Pelaku pasar uang memperkirakan suku bunga akan mencapai puncaknya pada 5,35 persen di bulan Juli dan bertahan di sekitar level tersebut hingga akhir tahun 2023. Dari data ekonomi, investor menantikan rilis data GDP dan klaim pengangguran mingguan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement