Rabu 15 Feb 2023 10:26 WIB

Inflasi AS Melandai Jadi 6,4 Persen di Januari 2023

Data inflasi di AS membuat pasar keuangan sedikit bergejolak.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
Bendera Amerika Serikat (ilustrasi). Indeks harga konsumen di Amerika Serikat (AS) melandai jadi 6,4 persen pada Januari 2023 dari sebelumnya 6,5 persen pada Desember 2022. Inflasi tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang sebesar 6,2 persen.
Foto: Evan Frost / Minnesota Public Radio via AP
Bendera Amerika Serikat (ilustrasi). Indeks harga konsumen di Amerika Serikat (AS) melandai jadi 6,4 persen pada Januari 2023 dari sebelumnya 6,5 persen pada Desember 2022. Inflasi tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang sebesar 6,2 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Indeks harga konsumen di Amerika Serikat (AS) melandai jadi 6,4 persen pada Januari 2023 dari sebelumnya 6,5 persen pada Desember 2022. Inflasi tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang sebesar 6,2 persen.

Dilansir Reuters, Rabu (15/2/2023), inflasi utamanya disebabkan kenaikan biaya sewa perumahan dan harga makanan. Secara bulanan, inflasi AS naik 0,5 persen di Januari setelah naik 0,1 persen di Desember 2022.

Baca Juga

Data inflasi di AS membuat pasar keuangan sedikit bergejolak. Imbal hasil surat utang pemerintah AS lebih tinggi. Investor berekspektasi kebijakan moneter akan lebih ketat.

"Kekhawatiran hari ini adalah inflasi tidak turun cukup cepat dan The Fed harus tetap hawkish. Ketika pasar obligasi menjadi gelisah, itu diterjemahkan ke dalam pasar saham," kata kepala investasi di Huntington National Bank John Augustine. 

Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker mengatakan The Fed belum akan menyudahi kebijakannya untuk menaikkan suku bunga. Namun, Harker memberi angin segar bahwa Fed sudah mendekati langkah pelonggaran kebijakan.

Sementara Presiden Fed New York John Williams mengatakan, perlu waktu bertahun-tahun untuk mencapai target inflasi dua persen. Sehingga bank sentral mungkin akan terus menaikkan suku bunga untuk memperlambat kenaikan harga. 

Di sisi lain, investor khawatir the Fed tidak dapat menghentikan kenaikan suku bunga. Berdasarkan data inflasi tersebut, the Fed diperkirakan mengerek naik suku bunga setidaknya dua kali lagi. 

"Dugaan saya akan ada kenaikan 25 basis poin lainnya di bulan Maret dan 25 basis poin di bulan Mei," kata kepala ekonom Spartan Capital Securities Peter Cardillo.

Seiring data inflasi ini, bursa utama Wall Street bergerak beragam. S&P 500 kehilangan 1,16 poin atau terkoreksi tipis 0,03 persen. Dow Jones Industrial Average turun 156,66 poin atau 0,46 persen dan Nasdaq Composite menguat 68,36 poin atau 0,57 persen. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement