Selasa 31 Jan 2023 13:20 WIB

Rusia-Arab Saudi Bahas Kerja Sama OPEC+ 

Anggota OPEC+ bertemu merekomendasikan mempertahankan kebijakan produksi minyak

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
FILE - Kapal tanker minyak ditambatkan di kompleks Sheskharis, bagian dari Chernomortransneft JSC, anak perusahaan Transneft PJSC, fasilitas terbesar untuk produk minyak dan minyak bumi di Rusia selatan, di Novorossiysk, Selasa, 11 Oktober 2022. Rusia masih menghasilkan banyak uang dari penjualan minyak meskipun ada batasan harga yang diberlakukan oleh Kelompok Tujuh negara demokrasi utama. Para peneliti di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih Helsinki mengatakan dalam laporan Rabu 11 Januari 2023 bahwa batas tersebut terlalu lunak pada $60 per barel.
Foto: AP Photo, File
FILE - Kapal tanker minyak ditambatkan di kompleks Sheskharis, bagian dari Chernomortransneft JSC, anak perusahaan Transneft PJSC, fasilitas terbesar untuk produk minyak dan minyak bumi di Rusia selatan, di Novorossiysk, Selasa, 11 Oktober 2022. Rusia masih menghasilkan banyak uang dari penjualan minyak meskipun ada batasan harga yang diberlakukan oleh Kelompok Tujuh negara demokrasi utama. Para peneliti di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih Helsinki mengatakan dalam laporan Rabu 11 Januari 2023 bahwa batas tersebut terlalu lunak pada $60 per barel.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan via telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), Senin (30/1/2023). Selain hubungan bilateral, mereka turut membahas kerja sama dalam negara OPEC+ untuk menjaga stabilitas pasar minyak.

"Masalah pengembangan lebih lanjut dari kerja sama bilateral di bidang politik, perdagangan-ekonomi dan energi, serta interaksi dalam kerangka kerja OPEC+ untuk memastikan stabilitas pasar minyak global telah dibahas," kata Kremlin dalam keterangannya terkait pembicaraan antara Putin dan Pangeran MBS, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Para menteri OPEC+, termasuk di dalamnya Rusia, Kazakhstan, Meksiko, Azerbaijan, dan Oman, diagendakan menggelar pertemuan virtual pada Rabu (1/2/2023). Kegiatan itu dikenal dengan Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC). Delegasi OPEC+ mengatakan kepada Reuters bahwa panel JMMC kemungkinan besar akan merekomendasikan untuk mempertahankan kebijakan produksi minyak saat ini.

Target produksi minyak OPEC+ tahun lalu menyebabkan ketidaksepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi. Namun, awal Januari lalu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan, stabilitas harga minyak saat ini di pasar menunjukkan bahwa negaranya membuat keputusan yang tepat.

 

Namun, masih ada faktor ketidakpastian mengenai bagaimana pasokan akan terpengaruh sanksi Barat baru-baru ini terhadap industri minyak Rusia sebagai akibat perangnya di Ukraina. Hal itu termasuk batasan harga yang dikenakan para produk minyak Rusia pada Desember 2022 lalu.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement