Rabu 28 Dec 2022 13:17 WIB

Analis: Suku Bunga Tinggi Jadi Ancaman Bank Digital pada 2023

Sebagian besar bank digital tengah berjibaku memenuhi permodalan inti Rp 3 triliun

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Suku bunga bank (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Suku bunga bank (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepanjang 2022 industri perbankan digital menjadi periode yang sangat menantang. Mereka menghadapi penurunan tajam harga saham setelah menikmati rally panjang pada 2021. 

Saat bersamaan, sebagian besar bank digital tengah berjibaku memenuhi permodalan inti Rp 3 triliun seiring investor global sedang menjauhi saham teknologi. Dari sisi positifnya, kinerja bank digital semakin membaik. 

Baca Juga

Penyaluran kredit, penghimpunan dana dan net interest margin tetap tumbuh melampaui pencapaian 2021. Di antara tujuh bank digital yang sudah memiliki aplikasi, PT Seabank Indonesia tercatat sebagai pemilik aset paling besar senilai Rp 23,86 triliun. Perolehan aset ditopang kredit sebesar Rp 16,28 triliun per September 2022.

Menyusul Seabank, PT Bank Neo Commerce Tbk dan PT Bank Jago Tbk yang memiliki aset masing-masing sebesar Rp 15,99 triliun dan Rp 15,82 triliun per September 2022. Seabank, posisi aset tersebut ditopang pinjaman sebesar Rp 8 triliun.

 

Lalu, bagaimana prospek bisnis bank digital tahun depan? Analis MNC Sekuritas Widi Tirta Gilang Citradi menilai bank digital akan menemui berbagai tantangan. Adapun beberapa di antaranya masih terkait pelemahan daya beli, inflasi dan suku bunga tinggi. 

“Apabila inflasi berhasil dijinakkan dan suku bunga acuan sudah mulai moderat, bank digital bisa berkibar lagi tapi dengan sejumlah syarat,” ujarnya dalam riset, Rabu (28/12/2022).

Menurutnya syarat paling mendasar terkait kemampuan bank digital memperluas kerja sama ekosistem dan mampu mengendalikan potensi risikonya. “Ini dua hal yang tidak terpisahkan. Bertumbuh, bank digital harus mampu memperbanyak partner bisnisnya. Masalahnya, memperluas partnership sama dengan menaikkan tingkat risiko,” katanya.

Jika hanya mengandalkan ekosistem berdasarkan grup sendiri atau satu afiliasi, menurutnya bank digital menghadapi dua tantangan pertama, risiko terkonsentrasi satu titik. Jika ekosistem grup yang menjadi andalannya itu bermasalah, bank juga terkena imbasnya. 

Kedua, bank tidak terpacu untuk meningkatkan kapasitasnya karena terlalu nyaman dengan grup sendiri. Adapun situasi ini membahayakan karena salah satu kunci keberhasilan bank digital adalah kemampuan menciptakan inovasi baru dan cepat beradaptasi dengan perubahan.

“Saat ini bank digital terlalu mengandalkan atau di back up penuh oleh ekosistem grup sendiri memang terlihat unggul, tapi itu akan ada batasnya. Ketika mereka sadar perlu ekspansi keluar ekosistem, mereka justru mendapati dirinya sudah tertinggal oleh kompetitor yang justru agresif membangun kolaborasi dengan banyak ekosistem,” ucapnya.

Jika diibaratkan, bank digital yang hanya mengandalkan ekosistem itu sendiri seperti pohon jati hasil budidaya. Berbeda dengan bank digital yang berani ambil risiko ke luar dari ekosistemnya. Terakhir ini seperti pohon jati yang tumbuh di hutan. Mereka lebih kuat, lebih kekar dan lebih mengakar.

Untuk bank digital yang berani ekspansi membangun ekosistem di luar dirinya sendiri akan menghadapi satu tantangan, yakni manajemen risiko. Bisa saja kolaborasinya itu gagal atau tidak berkembang sesuai harapan. 

“Ada risiko peningkatan NPL, risiko pasar dan risiko hukum jika ternyata integrasinya gagal. Tapi, jika berbagai risiko itu bisa dikendalikan dan mitigasi, mereka akan menikmati pertumbuhan bisnis luar biasa. Mereka yang mau memperluas ekosistem dan mendiversifikasi risiko memiliki peluang lebih besar sukses,” ucapnya.

Menurut Tirta, Bank Jago terlihat lebih menonjol dalam hal kolaborasi dengan banyak partner dari berbagai jenis layanan. Apa yang sudah dilakukan Bank Jago tidak hanya tertanam di dalam ekosistem GOTO, juga ekosistem lain seperti Stockbit dan Bibit. 

“Belum lagi rencana kolaborasi dengan BFI Finance dan Carsome. Ini akan menjadi pintu masuk Jago ke pembiayaan otomotif dan konsumen,” kata Tirta.

Nomura Sekuritas, institusi paling awal memberikan coverage pada Bank Jago juga menyebutkan, salah satu pilar bagi kesuksesan Bank Jago adalah kerja sama dengan partner yang beragam. Laporan riset yang dipublikasikan terbatas pada 1 Maret 2022 itu menyebut, kemitraan dengan Gojek, HomeCredit, KreditPintar bakal memberikan akses pembiayaan yang luas kepada nasabah maupun basis merchant di dalam ekosistem.

Sementara itu Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah menilai kolaborasi dengan ekosistem merupakan keniscayaan bagi bank berbasis teknologi. Kolaborasi akan semakin kuat apabila bank bersama partnernya menghadirkan sebuah long term value. Dia menggambarkan, fitur-fitur yang memudahkan nasabah secara langsung akan mendorong kesetiaan nasabah dalam menggunakan aplikasi bank digital.

“Kalau nasabah sudah nyaman menggunakan fitur-fitur yang ada di aplikasi, digunakan terus. Kemudahan dan kenyamanan itu menjadi prioritas daripada bunga yang ditawarkan,” ucapnya.

Piter menyebut bank digital juga perlu melakukan diversifikasi dalam menjalin kolaborasi dengan ekosistem digital. Menurut Piter, semakin banyak dan beragam jumlah partner yang digandeng, risikonya semakin akan semakin tersebar.

Dia menilai, apa yang dilakukan Bank Jago dengan jumlah ekosistem yang digandeng sudah tepat. Meski bukan bank digital paling besar, Bank Jago mampu mencetak profit lebih dahulu dibandingkan dengan kompetitornya. 

Rasio kredit bermasalah atau non performing loan juga berada di kisaran yang masih rendah, menandakan manajemen risiko berjalan baik. Berdasarkan laporan keuangan Bank Jago per September 2022, rasio non performing loan sebesar 0,59 persen, lebih rendah dari Bank Neo Commerce (1,86 persen) dan Seabank (3,26 persen) yang memiliki aset lebih tinggi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement