Kamis 15 Dec 2022 23:30 WIB

Pelaku Industri Wisata Tolak Kenaikan Harga Tiket Pulau Komodo

Asosiasi Kembali Berwisata Indonesia berharap harga tiket Komodo kembali sedia kala

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Petugas taman nasional menggunakan masker saat bertugas di pintu masuk kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, NTT.  Pelaku industri pariwisata Rachmat Julio, mendukung sikap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, yang membatalkan kenaikan harga tiket masuk Rp 3,75 juta di tempat pariwisata Pulau Komodo.
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Petugas taman nasional menggunakan masker saat bertugas di pintu masuk kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, NTT. Pelaku industri pariwisata Rachmat Julio, mendukung sikap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, yang membatalkan kenaikan harga tiket masuk Rp 3,75 juta di tempat pariwisata Pulau Komodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaku industri pariwisata Rachmat Julio, mendukung sikap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, yang membatalkan kenaikan harga tiket masuk Rp 3,75 juta di tempat pariwisata Pulau Komodo. 

Julio yang merupakan Owner Anjani Trip Group ini menilai, harga tiket masuk setinggi itu justru akan membuat kabur para wisatawan lokal dan internasional. Jika ingin membuat wisatawan menggeliat di Pulau Komodo, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kembali Berwisata Indonesia (KEMBERIN) ini mengatakan, harga tiket masuk harus dinormalkan kembali seperti sedia kala. 

"Saya dukung keputusan Pak Menteri Sandi. Wisatawan mana yang mau berbondong-bondong datang ke Pulau Komodo, kalau harga tiket masuknya saja sudah begitu mahal. Kita harapkan, harganya bisa sesuai kantong wisatawan lokal dan asing," ujarnya saat dihubungi wartawan, Kamis (15/12/2022). 

Rachmat mengungkapkan, di tengah persoalan pandemi Covid-19 yang belum selesai ini, seharusnya pemerintah dan para stakeholder duduk bersama memikirkan penyelesaian akar masalah pada sektor industri pariwisata. Menurutnya, menaikkan harta tiket masuk Pulau Komodo Rp 3,75 juta bukanlah sebuah solusi untuk meningkatkan daya tarik wisatawan lokal dan asing dalam berwisata. 

 

"Kita sangat ingin melihat Pulau Komodo ramai dikunjungi wisatawan. Maka itu, tolong harga tersebut dievaluasi kembali. Jangan sampai, akibat tingginya harga tiket, membuat tempat wisata Pulau Komodo jadi sepi," ujar Bendahara Umum Hipmi Mabar (Manggarai Barat) itu.

"Carilah solusi yang lebih bijaksana. Ayo duduk bersama memikirkan cara, bagaimana Pulau Komodo bisa ramai dijumpai wisatawan," ucapnya.

Tak sampai disitu, Rachmat juga menyoroti nasib para pelaku usaha sektor pariwisata, terutama para UMKM, jika seluruh tiket masuk tempat wisata naik semahal itu. 

"Kasihan mereka yang merintis dari bawah, terutama masyarakat lokal yang mengais rezeki di tempat asalnya," pungkas Rachmat.

Sementara itu Ketua Umum Hipmi Mabar, Mario Pranda menambahkan jika ingin memajukan dunia pariwisata harus bahu membahu. “Kita di Mabar sudah melakukan hal itu. Bagaimana kita berkolaborasi seluruh pihak mulai daerah hingga pusat,” ucapnya.

Sekretaris Umum Hipmi Mabar, Agung Afif menyebut apa yang mereka lakukan saat ini sudah membuahkan hasil. “Kita terus berbuat bagaimana sektor wisata bangkit dan tumbuh kembali. Agar semua bisa menikmati,” ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement