Kamis 04 Aug 2022 11:34 WIB

Jurus Inovasi dan Ekspansi Industri Farmasi untuk Ketahanan Kesehatan

Indonesia tercatat memiliki kekuatan dengan lebih 240 industri farmasi.

 Jurus ekspansi dan inovasi menjadi strategi jitu pengembangan industri farmasi.
Foto: dok PT. Pyridam Farma Tbk
Jurus ekspansi dan inovasi menjadi strategi jitu pengembangan industri farmasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Indonesia memiliki banyak potensi riset bidang kesehatan obat, vaksin dan alat kesehatan (alkes), yang terbukti dari lahirnya berbagai produk inovasi kesehatan untuk penanggulangan pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Indonesia juga mempunyai kapasitas industri farmasi yang terus berkembang. Saat ini Indonesia tercatat memiliki kekuatan dengan lebih 240 industri farmasi termasuk industri farmasi milik badan usaha milik negara dan swasta. Indonesia juga mempunyai 1.489 pedagang besar farmasi (PBF) pusat dan 1.074 PBF cabang.

Tak hanya itu, Indonesia pun memiliki lebih dari 40 ribu rumah sakit, apotek, klinik dan toko obat yang menggunakan dan mendistribusikan obat-obatan dan alkes. Tentunya ini bertujuan untuk mencukupi atau melayani 270 juta penduduk di Indonesia di mana di dalamnya adalah peserta BPJS Kesehatan sebesar 240,3 juta jiwa.

Melihat potensi tersebut, Menteri Kesehatan  Budi Gunadi Sadikin mengajak peran serta industri farmasi  dalam rangka mewujudkan ketahanan kesehatan nasional. "Saat ini Kementerian Kesehatan sedang fokus dalam mewujudkan ketahanan kesehatan sebagai salah satu pilar transformasi kesehatan dengan sasaran terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan nasional oleh produksi dalam negeri," kata Budi Gunadi Sadikin dalam satu kesempatan.

Untuk mencapai sasaran tersebut, kata Budi, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak termasuk akademisi, industri, pemerintah dan masyarakat agar dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas produksi sediaan farmasi dalam negeri.

Satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut telah dilakukan oleh PT Pyridam Farma Tbk yang resmi menyelesaikan transaksi akuisisi 100 persen saham (secara langsung maupun tidak langsung) atas PT Ethica Industri Farmasi yang semula dimiliki oleh Fresenius Kabi AG dan Fresenius Kabi Deutschland GmbH. Penyelesaian transaksi akuisisi saham PT Ethica Industri Farmasi telah dilakukan dengan nominal Rp 163,45 miliar.

“Akuisisi PT Ethica Industri Farmasi ini terjadi sebagai bukti nyata inovasi yang kami terus lakukan dengan menambahkan segmen produk baru di bidang injeksi dalam rangkaian produk yang dimiliki Pyridam Farma. Kami berharap dengan adanya akuisisi ini semakin memperkuat posisi Pyridam Farma di bidang healthcare Indonesia,'' ujar Presiden Direktur PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), Lee Yan Gwan, dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis (4/8/2022).

Selanjutnya, Pyridam Farma akan terus berinovasi menghadirkan produk berkualitas melalui kerja sama strategis dengan berbagai industri dalam upaya memajukan industri layanan kesehatan Indonesia dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

 

sumber : siaran pers/antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement