Jumat 29 Jul 2022 21:46 WIB

Jurus Erick Thohir Sehatkan BUMN

Transformasi menjadi salah satu cara yang penting dilakukan.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ilham Tirta
Menteri BUMN Erick Thohir.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Menteri BUMN Erick Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengungkapkan sejumlah jurus dalam upayanya menyehatkan perusahaan pelat merah. Erick mengatakan, transformasi menjadi salah satu cara yang penting dilakukan.

Dalam melakukan transformasi, Erick menyebut Kementerian BUMN tidak bisa bekerja sendiri. “Memang kesulitan kita selama ini, selalu, bagaimana kita implementasi dan tepat waktu. Itu perlu tim, bukan individu,” kata Erick dikutip dari wawancara dengan CNN, Jumat (29/7/2022).

Baca Juga

Erick menyebutkan, penurunan utang BUMN dari 29 persen menjadi 35 persen juga merupakan salah satu upaya untuk menyehatkan BUMN. Erick menegaskan, meskipun utang selalu memiliki konotasi yang negarif, namun selama dilakukan secara produktif, maka tidak masalah.

“Harus dipastikan ini utang produktif, bukan utang yang dipakai untuk keperluan lainnya. Kalau koruptif, kita lakukan bersih-bersih BUMN,” ujar Erick.

 

Erick mencotohkan, salah satu perusahaan BUMN, PT PLN (Persero) yang kerap disebut-sebut memiliki utang Rp 500 triliun. Erick mengaku tidak bisa menyalahkan karena sebelumnya PLN memiliki program kelistrika 35 ribu watt.

“Sekarang memang karena Covid-19 kita kelebihan listrik hampir 16 ribu, tapi waktu itu kekurangan lisrik 35 ribu. Ini sesuatu yang terjadi tidak bisa dipilih. Kalau menyalahkan menteri BUMN sebelumnya juga tidak bijak,” jelas Erick.

Erick menuturkan, upaya yang dapat dilakukan demi menyehatkan PLN yakni efisiensi. Belanja modal PLN dikurangi hingga 25 sampai 50 persen. Erick mengatakan, hal tersebut bisa membuat PLN lebih efisien.

Lalu upaya lainnya, yakni digitalisasi. Erick tidak menampik penerapan aplikasi My Pertamina mengundang polemik, namun dia percaya aplikasi tersebut juga nantinya akan memiliki dampak yang sama seperti PeduliLindungi yang sangat bermanfaat.

My Pertamina supaya tepat sasaran, yang tidak perlu disubisidi jangan pakai bensin subsidi. Evaluasi juga akan terus dilakukan. Jangan salah diartikan, Telkom kok yang menjaga supaya tepat sasaran,” kata Erick.

Perampingan BUMN juga menjadi salah satu jurus jitu dalam menyehatkan perusahaan. Erick menegaskan, dirinya memiliki prinsip jika suatu perusahaan sudah lama tidak aktif, maka harus segera diatasi.

Erick mengatakan, perusahaan BUMN yang tidak sehat akan menjadi beban negara. “Kita pastikan BUMN sehat dan memberikan kontribusi besar. Alhamdulillah, tiga tahun terkahir sudah memberikan Rp 1.198 artinya naik Rp 68 triliun dari tiga tahun sebelumnya,” kata Erick.

Dengan perusahaan sehat, Erick menilai BUMN baru bisa mendorong ekonomi kerakyatan dengan membuka lapangan kerja. Erick menuturkan pondasi ekonomi kerakyatan harus menajadi pondasi Indonesia.

Erick menambahkan, restrukturisasi yang dilakukan beberapa BUMN juga menjadi upaya untuk menyehatkan kembali. Salah satunya yang dilakukan terhadap PT PN (Persero) sehingga produski gula terus ditingkatan supaya mengurangi impor gula.

Begitu juga dengan restrukturisasi PT Garuda Indonesia (Persero) yang berhasil mendapatkan kesepakatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Erick menegaskan, restrukturisasi dilakukan bukan karenah Garuda Indonesia tidak memiliki potensi.

Erick menilai Garuda Indonesia justru memiliki potensi yang cukup besar, terutama untuk penerbangan domestik. “Lebih baik fokus ke domestik 70 persen dan 30 persen internasional untuk logistik, umrah, gaji, dan perjalanan luar negeri jarak dekat,” kata Erick.

Erick optimistis Garuda Indonesia dapat lebih baik lagi jika tetap disiplin. PKPU juga perlu dilakukan karena menurut Erick sewa pesawat Garuda Indonesia porsinya hingga 27 persen dan ada korupsi.

“Masa kita diamkan saja (praktik korupsi), bukan berarti arogansi. Perbaikan bisnis demi hindari korupsi,” ujar Erick.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement