Senin 06 Jun 2022 22:02 WIB

BI Dorong Kemandirian Pesantren Melalui Pengembangan Bisnis

BI dorong pengembangan bisnis pertanian di pesantren dengan konsep rumah hijau.

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
Sejumlah santri tengah praktik pertanian (ilustrasi). Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong kemandirian pondok pesantren melalui pengembangan bisnis pertanian dengan konsep rumah hijau.
Foto: Muhammad Fauzi Ridwan/Republika
Sejumlah santri tengah praktik pertanian (ilustrasi). Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong kemandirian pondok pesantren melalui pengembangan bisnis pertanian dengan konsep rumah hijau.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong kemandirian pondok pesantren melalui pengembangan bisnis pertanian dengan konsep rumah hijau.

"Untuk di Solo Raya ini green house sudah ada lima, semuanya diawali dengan tanaman melon," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Surakarta Nugroho Joko Prastowo di sela panen perdana melon di Pondok Pesantren Takmirul Islam Surakarta, Senin (6/6/2022)

Baca Juga

Selain Takmirul Islam, dikatakannya, lima pondok pesantren di Solo Raya yang sudah melakukan aktivitas pertanian dengan konsep rumah hijau ini di antaranya di Pondok Pesantren Ki Ageng Selo Klaten dan Pondok Pesantren Darul Quran Sragen. "Kelimanya ini sudah berhasil, harapannya pada masa tanam berikutnya akan lebih bagus. Saat ini melon dulu, belum belajar paprika, cabai, nanti ilmunya beda-beda," katanya.

Ia berharap upaya tersebut dapat meningkatkan kemandirian pesantren serta menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. "Yang saat ini (pertumbuhan ekonomi) 5-5,5 persen nanti bisa menggeliat di seluruh Indonesia, bisa naik jadi 6-7 persen, tujuannya itu," katanya.

 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa mengapresiasi langkah tersebut. Pengembangan potensi ekonomi pondok pesantren bertujuan agar pondok pesantren bisa mandiri secara ekonomi.

"Ke depan untuk Solo diharapkan tidak hanya dikembangkan di Takmirul Islam, banyak pondok pesantren yang lahannya masih ada. Kita harus intervensi, kita latih agar mereka mandiri," kata Teguh.

Ia mengatakan peran pemerintah yakni memberikan kemudahan salah satunya dari sisi pemasaran. "Misalnya nanti kami fasilitasi satu slot di supermarket ya bisa saja. Nitip di sana atas nama pemkot, yang jelas mereka (pondok pesantren) tidak bisa kerja sendiri, harus gotong-royong," kata Teguh.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement