Rabu 18 May 2022 08:30 WIB

OJK Ingatkan Sektor Keuangan Mitigasi Serangan Siber

Serangan siber yang bersumber dari internal juga harus diwaspadai.

Rep: Novita Intan/ Red: Satria K Yudha
Serangan siber
Foto: Flickr
Serangan siber

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan sektor keuangan untuk meningkatkan upaya mitigasi terhadap serangan siber. Sebab, serangan siber diprediksi akan terus mengalami peningkatan. 

Menurut OJK, serangan siber terhadap digitalisasi perbankan diprediksi bisa mencapai 86,7 persen. Pada 2021, serangan siber terhadap sektor keuangan sebesar 22,4 persen.

Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Tony, mengatakan digitalisasi perbankan bisa bermanfaat bagi masyarakat, namun juga bisa menimbulkan efek negatif seperti serangan siber.

“Probabilitas serangan siber sektor keuangan ke depan diprediksi bisa mencapai 86,7 persen dan memang diprediksi akan successful apabila bank-bank tidak siap melakukan mitigasi terkait keamanan siber,” kata Tony saat webinar 'Mengukur Percepatan Transformasi Digital Perbankan: Bagaimana Strategi Mitigasi dan Kesiapan Bank Menghadapi Cybercrime?', Selasa (17/5/2022).

 

Dia mengatakan,  OJK telah menerapkan kebijakan transformasi digital perbankan, salah satunya agar perbankan lebih memiliki daya tahan, berdaya saing, dan kontributif di tengah era digital. “Aturan ini pada akhirnya akan kembali ke customer. Bagaimana bank bisa menjaga keyakinan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional,” ucap Tony.

Sementara itu, perusahaan sektor teknologi informasi, Multipolar Technology, mengingatkan agar setiap perusahaan terutama sektor keuangan dapat mewaspadai ancaman serangan siber yang bersumber dari internal, bukan hanya serangan eksternal. Sebab, serangan internal seringkali tidak disadari dan memerlukan waktu lama untuk menanganinya.

Section Head Multipolar Technology Ignatius Oky Yoewono mengatakan, timbulnya serangan internal, salah satunya dipicu akses-akses karyawan yang membuka pintu bagi oknum untuk masuk ke sistem penting.

“Kita perlu mengelola karyawan baik yang masih bekerja maupun yang sudah selesai bekerja dengan perusahaan terkait dengan akun dan akses terhadap sistem-sistem kritikal yang ada di perusahaan. Seringkali, kita lupa menghapus kredensial atau akses privilege yang mereka punya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, ada perusahaan yang baru mengetahui terkena serangan siber hingga enam sampai sembilan bulan setelahnya. Menurutnya, serangan siber tersebut bisa terjadi karena terdapat celah pada perangkat lunakl yang digunakan perusahaan sehingga oknum bisa memanfaatkannya. 

“Untuk meminimalkan itu, Multipolar Technology menawarkan pendekatan baru dalam deteksi keamanan siber, yaitu dengan pemanfaatan solusi IBM Security,” ucapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement