Jumat 29 Oct 2021 21:55 WIB

Pemerintah Dorong Transformasi Digital di Tujuh Sektor

Sebanyak 41,9 persen total transaksi ekonomi digital di ASEAN berasal dari Indonesia.

Rep: Novita Intan/ Red: Satria K Yudha
Petani memantau tanaman salada melalui aplikasi pada telepon genggam dalam metode pertanian cerdas berbasis teknologi di Tugu Hidroponic desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (18/9/2021). Petani muda di desa itu memanfaatkan teknologi digital saat bertani untuk memudahkan dalam proses pengolahan kebun mulai dari memberi nutrisi, memupuk, mengecek kelembaban air dan temperatur udara serta memantau masa penanaman hingga masa panen sekaligus melakukan pemasaran hasil pertanian secara daring.
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Petani memantau tanaman salada melalui aplikasi pada telepon genggam dalam metode pertanian cerdas berbasis teknologi di Tugu Hidroponic desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (18/9/2021). Petani muda di desa itu memanfaatkan teknologi digital saat bertani untuk memudahkan dalam proses pengolahan kebun mulai dari memberi nutrisi, memupuk, mengecek kelembaban air dan temperatur udara serta memantau masa penanaman hingga masa panen sekaligus melakukan pemasaran hasil pertanian secara daring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berupaya mempercepat transformasi ekonomi melalui Making Indonesia 4.0. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, transformasi tersebut mengutamakan tujuh sektor utama, yakni makanan dan minuman, tekstil dan garmen, otomotif, bahan kimia, elektronik, farmasi, dan peralatan medis.

Airlangga menilai, sektor tersebut memiliki permintaan yang tinggi saat pandemi Covid-19. “Bonus demografi merupakan kunci pertumbuhan Indonesia pada masa mendatang. Ini perlu menjadi perhatian, karena ekonomi digital Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (29/10).

Airlangga mengutip data yang menyebutkan sebesar 41,9 persen total transaksi ekonomi digital di ASEAN datang dari Indonesia.  Menurut dia, hal tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa untuk melakukan bisnis digital, seperti teknologi finansial, niaga daring,  layanan kesehatan digital, hingga education technology. 

Airlangga saat menjadi pembicara di Fakultas Humaniora President University bertema International Conference on Humanities and Social Science (ICHSS) 2021 mengungkapkan, mahasiswa merupakan digital talent dan entrepreneur masa depan. 

 

“Saya berharap jumlah entrepreneur kita dapat tumbuh lima persen dari seluruh populasi. Saat ini rasionya masih sangat rendah sebesar 3,5 persen dan area potensial yang perlu dikembangkan adalah kemampuan teknologi digital, artificial intelligence, hingga big data," katanya. 

Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Budi Susilo Soepandji menambahkan, ada enam faktor yang memicu terjadinya perubahan secara global pada masa depan, yaitu eskalasi globalisasi ekonomi, pesatnya perkembangan komunikasi digital dan jaringan internet, menurunnya peran AS sebagai pemimpin global, dan akumulasi dampak kerusakan lingkungan dan berkurangnya sumber daya alam yang vital bagi umat manusia. Kemudian, pesatnya perkembangan bioteknologi dan ilmu hayati serta ketidakharmonisan antara peradaban manusia dan sistem ekologi. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement