Jumat 01 Oct 2021 10:22 WIB

QRIS jadi Sarana UMKM Masuk ke Ekosistem Digital

Pada tahun ini ditargetkan pengguna QRIS sebanyak 12 juta.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
Pengunjung melihat berbagai produk UMKM di Galeri Produk Usaha Rakyat (Gapura), Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/9).  Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penggunaan metode pembayaran quick response code Indonesia standard (QRIS) dapat menjadi sarana bagi pelaku UMKM masuk ke ranah ekosistem digital.
Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
Pengunjung melihat berbagai produk UMKM di Galeri Produk Usaha Rakyat (Gapura), Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/9). Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penggunaan metode pembayaran quick response code Indonesia standard (QRIS) dapat menjadi sarana bagi pelaku UMKM masuk ke ranah ekosistem digital.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penggunaan metode pembayaran quick response code Indonesia standard (QRIS) dapat menjadi sarana bagi pelaku UMKM masuk ke ranah ekosistem digital. Per 17 September 2021 implementasi QRIS secara nasional telah menjangkau 10,45 juta pengguna.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan pada tahun ini ditargetkan pengguna QRIS sebanyak 12 juta. Saat ini dari 10,45 juta yang telah menggunakan QRIS merupakan 96 persen pelaku UMKM.

Baca Juga

“Kita lihat pondasi digital Indonesia seperti penetrasi internet dengan digitalisasi sebenarnya menjadi modal penting memperluas inklusivitas keuangan bagi UMKM," ujarnya saat webinar dengan tema 'UMKM Go Digital: Akselerasi Pertumbuhan dengan Melek Pembayaran Digital melalui QRIS dan Akses Permodalan' Kamis (30/9) malam.

Menurutnya UMKM bisa memulai akses pembayaran untuk meningkatkan kualitas UMKM agar mempermudah akses permodalan, seperti penerapan QRIS yang akan menjadi game changer bagi UMKM.

“Dengan QRIS yang mempermudah akuisisi data maka UMKM maka dengan mudah dapat profiling oleh Bank Indonesia, sehingga data transaksi pembayaran dapat digunakan sebagai credit scoring yang mendorong keyakinan bank/non bank untuk menyalurkan kredit,” ucapnya.

Dari sisi pelaku UMKM, Managing Partner PT Indogen Capital Chandra Firmanto menambahkan permasalahan yang sering dihadapi UKM yakni tidak dapat menentukan target pasar dengan benar. Adapun penentuan target pasar sangat penting untuk memulai bisnis dan mendapatkan transaksi penjualan yang bagus. 

"Sebab orang-orang di kota-kota lapis 2 dan 3 telah melakukan bisnis dengan cara yang mapan selama beberapa dekade, oleh karena itu pemberian solusi digital yang tepat harus dimulai dengan berfokus kepada area pendapatan dan optimalisasi biaya, sebab 2 area tersebut merupakan bagian penting bagi para pebisnis terutama UMKM dan UKM agar tetap naik kelas," ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, yang harus diperhatikan dalam menargetkan segmentasi pasar dengan mengutamakan hal-hal sederhana yang dapat memberikan value sesuai dengan pasar. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement