Senin 27 Sep 2021 15:29 WIB

Kementerian BUMN Ungkap 8 Tahap Penyelamatan Waskita Karya

Keuangan Waskita saat ini mengalami tekanan akibat jumlah utang besar yakni Rp 90,9 T

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur jalan tol Medan - Bandara Kualanamu - Tebing Tinggi di Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/5). Waskita Karya meraup keuntungan setelah melakukan divestasi saham untuk konsesi ruas Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road.
Foto: Antara/Septianda Perdana
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur jalan tol Medan - Bandara Kualanamu - Tebing Tinggi di Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/5). Waskita Karya meraup keuntungan setelah melakukan divestasi saham untuk konsesi ruas Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, terdapat delapan tahap penyelamatan kesehatan PT Waskita Karya (Persero). Pria yang akrab disapa Tiko mengatakan keuangan Waskita saat ini mengalami tekanan akibat jumlah utang yang besar yakni sekitar Rp 90,9 triliun pada 2019 yang terdiri atas utang sebesar Rp 70,9 triliun kepada bank dan obligasi dan utang kepada vendor yang sebesar Rp 20 triliun.

 

Baca Juga

Tiko memaparkan delapan tahap penyelamatan meliputi asset recycling inti, restrukturisasi Waskita induk, penjaminan pinjaman dan obligasi, restrukturisasi anak usaha, asset recycling khusus, penyertaan modal negara (PMN), restrukturisasi bisnis, serta perbaikan tata kelola dan manajemen risiko.

"Tol-tol kami divestasi lewat pelepasan asset recycling secara bertahap," ujar Tiko saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR terkait pembahasan rencana right issue Waskita Karya di gedung DPR, Jakarta, Ssnint (27/9).

 

Tiko menyebut Waskita telah melepas lima dari 16 ruas tol sejak 2019 yang meliputi ruas tol Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kualanamu-Tebing Tinggi, Semarang-Batang, dan Cinere-Serpong. Selain itu, Waskita juga tengah menyelesaikan divestasi ruas tol Cibitung-Tanjung Priok serta rencana pelepasan ruas tol Pejagan-Pemalang, Kanci-Pemalang, dan Pemalang-Batang kepada Indonesia Investment Authority (INA) atau lembaga pengelola investasi (LPI).

"Asset recycling ini untuk mengurangi beban utang yang berasal dari investasi dan konstruksi jalan tol. Penurunan tingkat utang diperkirakan mencapai Rp 41 triliun," ucap Tiko.

Tahap kedua, lanjut Tiko, Waskita telah mendapatkan persetujuan seluruh kreditur atas restrukturisasi pembayaran utang. Sementara tahap ketiga, Waskita juga mengajukan penjaminan kepada pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional yang telah disetujui Kemenkeu senilai Rp 9,8 triliun untuk penjaminan modal kerja baru melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII).

"Kami juga telah menyelesaikan restrukturisasi anak usaha, Waskita Infrastruktur dan Waskita Realty, alhamdulillah keduanya cukup sehat. Tantangan terbesar Waskita Grup ialah menyelesaikan utang di Waskita Beton Precast (WSBP), ini yang jadi perhatian kami," ungkap Tiko.

Untuk tahap asset recycling khusus, Tiko menyebut ada dua ruas yang memiliki cost overrun atau nilai keekonomian tinggi yakni ruas Kayu Agung-Palembang-Betung; dan ruas Krian-Manyar. Tiko mengatakan adanya peningkatan biaya operasi tiga kali lipat pada ruas Kayu Agung-Palembang-Betung, dari Rp 6 triliun menjadi Rp 14 triliun.

"Itu karena saat ambil alih dan pembangunan awal tidak memperhitungkan adanya tanah gambut dan dilakukan dengan konstruksi model mengambang," sambung Tiko.

Tiko mengatakan penyelesaian proyek ini akan menggunakan PMN yang nantinya akan segera dilakukan divestasi apabila sudah selesai pembangunan. Tiko menyampaikan Waskita telah mengajukan PMN sebesar Rp 7,9 triliun pada tahun ini untuk modal kerja dan investasi jalan tol. Kata Tiko, Waskita tidak pernah mendapatkan PMN saat melakukan penugasan pemerintah pada 2017 hingga 2019.

Tiko mengatakan Kementerian BUMN melakukan restrukturisasi bisnsi Waskita untuk kembali fokus dalam bisnis konstruksi. Kata Tiko, pelepasan ruas tol merupakan bagian restrukturisasi bisnis Waskita untuk tidak lagi menjadi investor jalan tol, namun fokus pada konstruksi jalan, air, dan perkeretaapian.

"Secara bertahap tol akan dilepas hingga 2025, ada yang diambil BUMN lain, swasta, INA, diharapkan Waskita pada 2025 kembali ke core bussiness awal," ucapnya.

Kementerian BUMN, lanjut Tiko, juga melakukan perbaikan tata kelola dan manajemen risiko perusahaan. Tiko mengatakan Waskita sempat menjadi 'pasien' PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) beberapa tahun lalu akibat kondisi keuangan yang tidak sehat.

"Setelah keluar dari PPA sudah sehat, langsung dikasih tugas banyak, nah kesiapan manajemen keuangan dan risiko rendah sekali," ungkapnya.

Tiko menyebut tiga hal krusial yang dihadapi Waskita tahun ini ialah pelunasan obligasi jatuh tempo pada September 2021 melalui penerbitan obligasi yang sudah berjalan, penandatangan perjanjian kredit untuk pinjaman dengan penjaminan pemerintah yang sudah rampung, dan melakukan right issue dengan HMETD yang ditargetkan terealisasi pada Desember.

"Targetnya memang mepet sekali karena persetujuan PMN agak pas-pasan, baru kita dorong di kuartal III, harapan kita akhir Desember bisa selesai HMETD-nya," kata Tiko menambahkan.

Muhammad Nursyamsi

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement