Rabu 15 Sep 2021 16:50 WIB

Menghadirkan Tol Langit Atasi Kesenjangan Digital

Dampir di seluruh wilayah masih ada masyarakat yang belum mendapatkan akses internet.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha
Internet (ilustrasi). Hampir di seluruh wilayah masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet.
Foto: www.freepik.com.
Internet (ilustrasi). Hampir di seluruh wilayah masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah hingga saat ini masih berupaya untuk menghadirkan tol langit di seluruh penjuru Indonesia demi mengatasi kesenjangan digital. Khususnya dalam memastikan kehadiran internet di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memastikan terus melanjutkan pembangunan tol langit tersebut. “Tol langit seperti jalan tol bebas hambatan. Jaringan internet di pedalaman yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber optic sehingga internet bisa lebih cepat seperti di kota besar,” kata Direktur Utama Bakti Kominfo Anang Latif dalam Webinar Apa Kabar Tol Langit, Selasa (14/9). 

Baca Juga

Seperti namanya, istilah tol langit menggambarkan sebuah sambungan bebas hambatan berupa sinyal internet yang dapat menghubungkan seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan membangun jaringan backbone nasional dan satelit multifungsi berteknologi tinggi atau high throughput satelite

Anang menjelaskan bahwa kehadiran tol langit sangat dibutuhkan mengingat masih adanya kesenjangan digital di Indonesia. Dia menuturkan, hampir di seluruh wilayah masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet. 

 

Dia menuturkan, pengguna internet aktif pada tahun 2019 hingga 2020 baru 73,7 persen dari seluruh total penduduk Indonesia. Angka tersebut dengan tingkat penetrasi tertinggi di Pulau Jawa dan Sumatra. 

“Target pemerintah setidaknya sebanyak 92,6 persen dari total penduduk merupakan pengguna internet aktif,” tuturnya.

Anang mengatakan, salah satu cara mewujudkan tol langit dengan membangun infrastruktur telekomunikasi backbone yang menghubungkan antarkota atau kabupaten melalui jaringan serat optik Palapa Ring. Selain itu juga infrastruktur middle mile berupa satelit, serat optik, dan microwave link sebagai penghubung hingga ke wilayah kecamatan.  

Dia memastikan Bakti Komingon berencana membangun fiber optic Palapa Ring Integrasi pada 2022 hingga 2023 dengan total 12.803 kilometer dalam dua fase pembangunan. Dia menjelaskan, fase pertama yaitu pada 2022 sepanjang 5.226 kilometer dan fase kedua pada 2023 sepanjang 6.857 kilometer. 

“Dari total fiber optic yang akan dibangun, 8.203 kilometer akan digelar di daratan, 3.880 kilometer di laut, dan sisanya berupa microwave link,” tutur Anang. 

Anang mengatakan, jaringan tersebut akan mengintegrasikan tiga paket Palapa Ring yang sudah terbangun yakni Palapa Ring Barat, Tengah, dan Timur. Dengan begitu ketiganya akan saling terhubung.

Dia menuturkan, program pembagunan Palapa Ring Integrasi yang menelan biaya hingga Rp 8 triliun tersebut akan menjadi bagian utama dari tol langit nasional. Tujuannya, kata Anang, untuk memperkuat jaringan yang sudah ada dan menjadi backup bila di satu wilayah jaringannya terputus, sehingga pemanfaatan internet akan lebih maksimal. 

“Sumber pendanaan program rencananya didapat dari kerja sama pemerintah dan pihak swasta,” ujar Anang. 

Meskipun begitu, dalam memanfaatkan jaringan Palapa Ring yang sudah terbangun di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia bukan tanpa tantangan. Anang mengatakan, dalam praktiknya tidak mudah untuk dikerjakan. 

“Banyak kendala lapangan yang dihadapi oleh Bakti Kominfo dan para mitra kerjanya. Umumnya tantangan hadir dari faktor geografis, sosial, dan administratif ujar Presiden Direktur Moratelindo Galumbang Menak. 

Miratelindo Merupakan salah satu mitra kerja Bakti Kominfo yang dipercaya untuk membangun jaringan Palapa Ring wilayah Barat dan Timur. Galumbang mengatakan, kondisi geografis Indonesia yang memiliki pegunungan tinggi memberi tantangan yang luar biasa. 

“Khususnya di wilayah Papua yang gunung-gunungnya bisa mencapai lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut,” ujar Galumbang. 

Galumbang menambahkan, lokasi yang hanya bisa diakses dengan helikopter tersebut juga menghambat kinerja para pekerja lapangan. Hal tersebut dikarenakan suhu udara dan kadar oksigen yang rendah.

Kendala tidak hanya di masalah teknologi, Galumbang mengatakan hal itu juga dari sisi keamanan. Dia menuturkan, penyerangan dan pengerusakan bisa terjadi kapan saja dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. 

Galumbang mengatakan, Moratelindo harus terus berkoordinasi dengan pihak TNI untuk menjamin keselamatan karyawannya. “Membangun Palapa Ring tidak hanya mengorbankan keringat dan memakan biaya yang besar, tapi juga harus berkorban nyawa. Sudah banyak korban, baik dari karyawan, kontraktor, maupun aparat TNI yang gugur demi mewujudkan internet di pelosok negeri, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Galumbang.

Dia menilai, untuk mengubah wajah dan pola hidup masyarakat di daerah 3T lewat kehadiran internet sangat tidak mudah. Galumbang menuturkan, dibutuhkan peran berbagai pihak. Bukan hanya pemerintah pusat yang bergerak maju bersama dengan mitra, aparat keamanan, TNI dan Polri namun juga peran pemerintah daerah yang juga harus proaktif memberi akses kemudahan lewat berbagai perizinan yang dibutuhkan.

Galumbang berharap, untuk selanjutnya tidak terjadi lagi perizinan yang berbelit hingga membutuhkan 29 izin hanya untuk membangun jaringan fiber optic sepanjang 60 hingga 70 kilometer. “Semoga cukup satu perizinan sudah bisa memberi akses untuk melaksanakan pekerjaan sehingga program-program pemerintah dapat berjalan dengan lebih cepat dan hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” ungkap Galumbang. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement