Senin 30 Aug 2021 12:54 WIB

Total Penerbitan Sukuk Indonesia Capai 23,65 Miliar Dolar AS

Nilai penerbitan sukuk di Indonesia mencapai 23 persen dari pangsa pasar global.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
Sukuk global pemerintah Indonesia. Pemerintah mencatat total penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk Indonesia sebesar 23,65 miliar dolar AS.
Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Sukuk global pemerintah Indonesia. Pemerintah mencatat total penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk Indonesia sebesar 23,65 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah mencatat total penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk Indonesia sebesar 23,65 miliar dolar AS. Adapun realisasi ini mencapai 23,11 persen dari pangsa pasar sukuk global. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu kontributor utama pasar sukuk internasional.

"Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah salah satu penyumbang utama penerbitan sukuk global di pasar internasional. Porsi Indonesia adalah 23,11 persen dari penerbitan global atau totalnya 23,65 miliar dolar AS,” ujarnya seperti dilansir dari laman Kementerian Keuangan dikutip Senin (30/8).

Menurutnya pendanaan bersumber dari sukuk tersebut digunakan sejumlah program di dalam negeri. Tercatat, ada 3.477 proyek yang mendapatkan pendanaan dari sukuk tersebut selama periode 2013 sampai 2021.

"Indonesia telah melakukan diversifikasi dan inovasi pada instrumen keuangan, dan kami memanfaatkan potensi keuangan Islam yang sangat kuat, baik di dalam negeri maupun secara global," ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, di tengah ketidakpastian pandemi, pemerintah berhasil menerbitkan sukuk global senilai tiga miliar dolar AS pada Juni 2021 lalu. Bendahara negara mengklaim imbal hasil sukuk tersebut memiliki imbal hasil kompetitif sebesar 3,55 persen.

"Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan pasar keuangan syariah dengan mengembangkan lebih banyak varian pembiayaan sukuk," ucapnya.

Adapun kontribusi sukuk kepada pembiayaan APBN mencapai 20 persen sampai 30 persen setiap tahunnya. Oleh sebab itu, dia menekankan sukuk memainkan peran penting dalam pembiayaan APBN.

Volume penerbitan sukuk pada awalnya hanya Rp 4,7 triliun pada 2008 lalu. Sedangkan, per Juni 2021 total volume penerbitan sukuk sejak awal sebesar Rp 1.810,02 triliun, dengan outstanding sebesar Rp 1.075,83 triliun.

"Dari tahun ke tahun, sukuk terus berkembang dan terus memainkan peranan yang sangat penting di dalam pembiayaan APBN," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement