Senin 01 Feb 2021 09:01 WIB

Sektor Pertanian Perlu Sentuhan Teknologi Mutakhir

Sentuhan teknologi modern perlu untuk menarik minat kalangan milenial

Pekerja memanen padi menggunakan mesin kecil di persawahan Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Jumat (2/10). Teknologi pertanian sangat diperlukan oleh petani, untuk meningkatkan produksi pertanian. Seperti mesin yang digunakan untuk memanen padi. Untuk setiap 1.000 meter persegi diperlukan waktu dua jam untuk mesin kecil. Dan petani juga bisa menuewa Rp 300 ribu untuk 1.000 meter persegi sawah.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pekerja memanen padi menggunakan mesin kecil di persawahan Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Jumat (2/10). Teknologi pertanian sangat diperlukan oleh petani, untuk meningkatkan produksi pertanian. Seperti mesin yang digunakan untuk memanen padi. Untuk setiap 1.000 meter persegi diperlukan waktu dua jam untuk mesin kecil. Dan petani juga bisa menuewa Rp 300 ribu untuk 1.000 meter persegi sawah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto menilai perlu dilakukan sentuhan teknologi canggih dan termutakhir dalam sektor pertanian untuk menarik minat kalangan milenial, sehingga meningkatkan regenerasi petani di Nusantara. "Perlu dilakukan upaya menarik minat kaum milenial agar tertarik terjun ke pertanian," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (1/2).

Hermanto mengingatkan bahwa tenaga kerja sektor pertanian kecenderungannya terus berkurang. Kepada para milenial, perlu diyakinkan bahwa sektor pertanian menjanjikan masa depan yang cerah. Ia menyebutkan bahwa pembangunan pertanian tidak bisa dihentikan karena manusia perlu makan.

Hermanto juga mengatakan peningkatan produktivitas pertanian saat ini tidak bisa dilakukan dengan cara tradisional. "Perlu ada sentuhan berbagai teknologi. Agar bisa menggunakan teknologi tersebut maka kapasitas petani dan penyuluh secara periodik perlu ditingkatkan," ucapnya.

Sebelumnya, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Asna Mustofa mengingatkan regenerasi petani sangat penting dilakukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan.

 

"Regenerasi petani memang diperlukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan dan mendukung program ketahanan pangan," katanya.

Asnayang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unsoed tersebut mengatakan perlu dibuat berbagai program yang inovatif guna menarik minat petani muda atau milenial. Selain itu, kata dia, teknologi pertanian juga dapat mendukung peningkatan produksi dan efisiensi. "Teknologi tidak harus canggih, tetapi yang sepadan. Dalam arti teknologi yang sesuai kebutuhan. Teknologi yang terlalu tinggi akan butuh biaya yang tinggi, sehingga harus disesuaikan juga dengan lahan yang akan digarap," katanya.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total jumlah petani di Indonesia.

Melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019, jumlah petani muda tercatat terjadi penurunan 415.789 orang dari periode 2017 ke 2018. Berdasarkan pernyataan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Indonesia dapat mengalami krisis petani karena petani yang tersisa umurnya sudah mendekati usia 56 tahun sehingga hasil pertanian menjadi kurang produktif.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement