Kamis 13 Aug 2020 03:07 WIB

Kolaborasi BTN Syariah-Mandiri Syariah Sinyal Konsolidasi

Tekanan pandemi Covid-19 mendorong redesain bisnis bank syariah.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha
Direktur Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho (kanan), Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari ( kiri) berdiri didepan layar usai penandatanganan Nota kesepahaman virtual kerjasama produk keuangan syariah di Jakarta, (11/8). PT Bank Tabungan Negara  (Persero) Tbk dalam hal ini Unit Usaha Syariah atau BTN Syariah dan Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menjalin sinergi dan kolaborasi dalam rangka memperluas layanan Pembiayaan Kepemilikan Perumahan (KPR). Foto: Tahta Aidilla/Republika
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Direktur Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho (kanan), Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari ( kiri) berdiri didepan layar usai penandatanganan Nota kesepahaman virtual kerjasama produk keuangan syariah di Jakarta, (11/8). PT Bank Tabungan Negara  (Persero) Tbk dalam hal ini Unit Usaha Syariah atau BTN Syariah dan Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menjalin sinergi dan kolaborasi dalam rangka memperluas layanan Pembiayaan Kepemilikan Perumahan (KPR). Foto: Tahta Aidilla/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kolaborasi BTN Syariah dengan Mandiri Syariah menjadi sinyal awal potensi konsolidasi di masa depan. Pengamat Ekonomi Syariah STEI SEBI, Azis Setiawan menyampaikan secara umum, hal ini menjadi sinyal yang positif bahwa di antara bank syariah baik BUS maupun UUS anak usaha Bank BUMN siap untuk saling kolaborasi.

"Secara lebih jauh ini juga menjadi sinyal yang positif menuju merger atau integrasi bank-bank syariah yang ada di bawah kendali menteri BUMN," katanya kepada Republika.co.id, Rabu (12/8).

Azis mengatakan, tekanan yang berat dampak dari pandemi Covid-19 akan mendorong redesain model bisnis bank syariah dan juga kompetensinya untuk bisa bertahan. Turbulensi, ketidakpastian, dan tekanan potensi resesi ekonomi yang semakin kuat akan mendorong konsolidasi bisnis bank.

Perubahan teknologi dan tekanan ekonomi yang besar secara riil akan mendorong manajemen puncak bank untuk bekerja lebih ekstra membuat langkah-langkah strategis agar bisa survive. Sehingga ini akan memaksa munculnya kebijakan-kebijakan besar dari perbankan yang cukup fundamental dan drastis.

 

Faktor-faktor eksternal baru yang menekan, telah memaksa bank syariah untuk beradaptasi dan berinovasi lebih cepat dan kuat agar bisa bertahan dan tetap tumbuh. Karena tsunami perubahannya sangat besar maka dibutuhkan langkah-langkah strategis yang juga bersifat ekstra.

"Langkah Mandiri Syariah dan UUS BTN bisa kita lihat dalam konteks itu," katanya.

Dalam waktu dekat, Azis memprediksi akan ada langkah-langkah strategis drastis yang akan diambil oleh bank syariah lainnya. Tekanan-tekanan yang ada sekarang ini juga akan menyusutkan potensi untuk unit usaha syariah BTN melepas diri dari induk atau spin off.

Menurut Azis, pemegang saham dan Manajemen puncak bank telah melihat bahwa risiko skenario spin off akan lebih sangat berat untuk bisa dijalankan di tengah tekanan perubahan dan kompetisi yang demikian besar. Pilihan rasionalnya bagi pemegang saham tentu adalah melakukan konsolidasi bisnis bank syariah yang menjadi portofolionya.

"Di Tengah tsunami yang besar maka lebih aman punya kapal yang besar ketimbang punya kapal banyak tapi kecil-kecil," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement