Rabu 22 Jul 2020 17:16 WIB

Bank Sentral China Bakal Perketat Kembali Kebijakan Moneter

Bank Sentral China ingin menghindari efek samping yang disebabkan pemberian stimulus.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Bank Sentral Cina. ilustrasi
Bank Sentral Cina. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Bank sentral China (People’s Bank of China/ PBOC) tidak berencana melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut, menurut empat narasumber kepada Reuters. Tapi, bank sentral tetap akan menjaga kondisi akomodatif untuk mendukung pemulihan ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Seperti dilansir di Reuters, Rabu (22/7), kebijakan tersebut diambil PBOC setelah melihat rebound yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal kedua. Sebelumnya, PBOC sudah melakukan sejumlah langkah darurat yang belum pernah dilakukan sebelumnya pada awal tahun guna menangani guncangan dari krisis Covid-19.

Baca Juga

PBOC juga ingin menghindari efek samping yang disebabkan pemberian stimulus secara berlebihan. Misalnya, lonjakan utang dan risiko gelembung pada pasar properti, ujar sumber yang terlibat dalam diskusi kebijakan internal.

Selain itu, para pembuat kebijakan ingin menyimpan amunisi mereka di tengah ketidakpastian mengenai seberapa lama ekonomi global akan pulih. Terlebih, ketegangan antara China dengan Amerika Serikat belum rampung. "Kita harus menjaga kebijakan moneter stabil dalam waktu dekat dan menyisakan ruang untuk masa depan," ujar salah seorang sumber.

PBOC telah meluncurkan serangkaian kebijakan sejak Februari. Di antaranya, pemotongan suku bunga pinjaman, rasio persyaratan cadangan (RRR) dan dukungan yang ditargetkan untuk banyak perusahaan yang terdampak Covid-19, seperti pinjaman murah.

Rangkaian kebijakan itu menandai peningkatan dalam siklus pelonggaran PBOC yang sudah dimulai sejak awal 2018, meskipun belum sampai pada tahap pemangkasan suku bunga mendekati nol seperti banyak bank sentral lain.

Meski PBOC kemungkinan akan memperlambat laju pelonggaran kebijakan moneter, seorang sumber menyebutkan, pemotongan lebih lanjut pada RRR dan suku bunga mungkin masih dibutuhkan. Khususnya untuk mendukung percepatan penerbitan obligasi pemerintah yang menjadi bagian dari stimulus fiskal guna memacu pertumbuhan ekonomi.

"Masih ada ruang untuk memangkas RRR dan suku bunga, terutama RRR," kata sumber kedua.

Pada Senin (20/7), China memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada 3,85 persen untuk tiga bulan berturut-turut, setelah dipotong 46 basis poin sejak Agustus lalu. PBOC juga sudah memotong rasio cadangan rata-rata atau jumlah kas yang harus dimiliki oleh bank sebagai cadangan sebesar 520 basis poin sejak awal 2008, menjadi 9,4 persen.

Narasumber kedua menjelaskan, keberlanjutan langkah pelonggaran tergantung pada kinerja ekonomi China. 

Ekonomi China menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ekonomi Negeri Panda ini tumbuh 3,2 persen pada kuartal kedua, membaik setelah mengalami rekor kontraksi terdalam hingga 6,8 persen pada kuartal pertama.

Perbaikan juga didukung oleh pinjaman bank semester pertama hingga 12,09 triliun yuan (1,73 triliun dolar AS) yang merupakan rekor tertinggi.

Gubernur PBOC Yi Gang telah berjanji untuk menjaga likuiditas yang cukup dan meningkatkan pinjaman baru hingga hampir 20 triliun yuan tahun ini. Tapi, ia juga mengatakan, China perlu mempertimbangkan untuk menghentikan atau memperlambat dukungan kebijakan pada beberapa titik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement