Kamis 02 Jul 2020 17:01 WIB

Ubi Jalar Jadi Bahan Utama Diversifikasi Pangan

Potensi diversifikasi pangan sumber karbohidrat selain nasi di Indonesia cukup besar.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Gita Amanda
Ubi jalar.
Foto: Flickr
Ubi jalar.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Potensi diversifikasi pangan sumber karbohidrat selain nasi di Indonesia cukup besar. Salah satunya yang paling menonjol adalah ubi jalar.

''Potensi diversifikasi pangan sumber karbohidrat yang jadi andalan adalah ubi jalar karena tanaman asli Indonesia yang memiliki keunggulan-keunggulan,'' ujar Ketua Asosiasi Agrobisnis Petani Ubi Jalar Indonesia (Asapuji) Ahmed Joe Hara kepada Republika, Kamis (2/7). Di antaranga mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan high maintenance.

Baca Juga

Selain itu kata Ahmed, hasil panen tinggi di atas 10 ton per hektare dan masa tanam relatif singkat 120 hari sama dengan padi. Kelebihan lainnya tidak mengkonsumsi banyak air dan tidak memerlukan irigasi teknis serta fleksibilitas tinggi dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga dataran tinggi 50 mdpl-800 mdpl.

Oleh karena itu lanjut Ahmed, ubi jalar merupakan tanaman yang sangat siap dan paling dekat dengan diversifikasi karbohidrat pengganti beras. Bahkan ubi jalar memiliki keunggulan yang lebih tinggi daripada beras yaitu dengan adanya vitamin lengkap dalam setiap satuan berat konsumsi.

 

Disamping itu sambung Ahmed, Ubi Jalar dapat dibuat menjadi berbagai produk olahan dan produk setengah jadi sebagai bahan baku industri lanjutan. Misalnya pati (starch) Ubi Jalar adalah bahan baku utama Dang Myun atau bihun Ubi atau Sweet Potato Glass Noodle.

Bihun Ubi saat ini telah menjadi makanan yang secara langsung dapat menjadi alternatif konsumsi mi (noodles) yang berbahan baku gandum. Produk olahan lainnya berbentuk pasta (getuk) ubi jalar selain dapat dikonsumsi langsung juga dapat menjadi bahan baku pengisi (filler) tepung pada industri biskuit, cookies, kue-kue lebaran dan saos (kecthup) sebagai penyedap makanan.

Sehingga sambung Ahmed, langkah pemerintah yang menjadikan ubi jalar sebagai salah satu tanaman diversifikasi karbohidrat pengganti beras merupakan langkah yang tepat. Disamping menjadi tanaman strategis ubi jalar juga menjanjikan keuntungan yang baik bagi para petaninya.

Dengan memasukkan ubi jalar sebagai tanaman strategis diversifikatif kata Ahmed, akan menjadi dorongan kepada para petani ubi jalar untuk memperbesar volume penanamannya. Sebab dapat dengan mudah diserap konsumen lokal ubi jalar juga memiliki volume ekspor yang cukup tinggi yaitu sekitar 16 juta dolar AS per tahun.

''Tentu diperlukan peran pemerintah pada upaya-upaya pembesaran volume usaha ubi jalar di tingkat petani lokal yaitu dengan membantu pengadaan alsintan yang tepat guna, memfasilitasi pengadaan mesin-mesin produksi tingkat home industri hingga penyediaan perluasan lahan penanaman.

Program penanaman ubi jalar di lahan tegalan atau tadah hujan disamping menjadi tambahan income bagi petani lanjut Fahmi, tegalan juga akan meningkatkan ekspor Indonesia melalui komoditi olahan ubi jalar. Diperlukan manajemen yang tepat dan konsisten untuk memperbesar usaha ekonomi ubi jalar.

Para petani ubi jalar diikat dalam sebuah wadah organisasi agar mudah berkomunikasi dan tepat sasaran dalam menerima peralatan maupun permodalan dari pemerintah maupun institusi-intitusi lainnya.

Agung Karuniawan, Staf Pengajar Fakultas Pertanian Departemen Budidaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung mengatakan, sejarah bangsa awalnya tidak mengenal beras dan terutama di Jawa lebih kepada budaya pangan umbi-umbian yakni ubi.

''Potensi pangan selain beras beragam yakni ubi sebagai sumber karbohidrat dan kacang kacang-kacangan sumber protein,'' ujar Agung, yang juga Kaprodi S2 Magister Managemen Sumber Daya Hayati Sekolah Pasca Sarjana Unpad Bandung. Upaya riset terkait diversifikasi pangan sumber karbohidrat dilakukan melalui pengembangan pusat umbi di Sumatera, Jawa, dan Maluku Utara.

Menurut Agung, konsumsi ubi saat ini kurang namun tren naik dibandingkan sebelumnya. ''Saat ini masih fokus pada padi, jagung dan kedelai, namun pada masa pandemi ada singkong dan ubi jalar,'' cetus dia.

Sehingga kata Agung, ia sangat yakin dan tidak pesimis umbi-umbian bisa menjadi bahan utama bukan alternatif.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement