Rabu 06 May 2020 08:09 WIB

Menkop Pastikan APD Buatan UMKM Sesuai Standar Kesehatan

Saat ini sudah 150 UMKM binaan telah menjadi mitra memproduksi APD sesuai standar.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha
Penjahit memproduksi alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis di Bandung, Jawa Barat, Senin (13/4/2020). Saat ini sudah 150 UMKM binaan telah menjadi mitra memproduksi APD sesuai standar.
Foto: ANTARA/m agung rajasa
Penjahit memproduksi alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis di Bandung, Jawa Barat, Senin (13/4/2020). Saat ini sudah 150 UMKM binaan telah menjadi mitra memproduksi APD sesuai standar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyatakan, Alat Pelindung Diri (APD) produksi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan kementerian, telah terkurasi sesuai standar kesehatan. Dengan begitu aman digunakan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Saat ini sudah 150 UMKM binaan telah menjadi mitra. Produk APD mereka sudah terkurasi sehingga memenuhi standar kesehatan,” ujar Teten dalam keterangannya pada Selasa, (5/5).

Baca Juga

Ia mengatakan, Kemenkop menggandeng industri swasta yang peduli dengan kualitas produksi Usaha Kecil Menengah (UKM) lokal melalui Karya Nusantara dari PT Daruma. Perusahaan yang telah memiliki izin dan otoritas di bidang perlengkapan kesehatan itu, menjadi kurator sekaligus pendamping UMKM produsen APD.

Ke depan, kata Teten, sudah ada 300 UMKM yang sedang mengajukan menjadi pemasok APD. Produk mereka akan segera diseleksi. 

Ratusan UMKM tersebut tersebar di berbagai daerah. Hanya saja paling banyak di Pulau Jawa.

Teten mendorong lebih banyak UMKM beralih memproduksi APD, khususnya masker kain sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19. Hal ini sekaligus mempertahankan UMKM agar tetap produktif di tengah masa pandemi.

“Kebutuhan APD kami lihat sebagai suatu peluang bisnis bagi UMKM dan koperasi yang selama ini terdampak Covid-19 yang mengalami kesulitan pembiayaan. Sebab penghasilan menurun, sehingga sekarang kami ajak UMKM banting setir,” tutur Teten. 

Kemenkop pun, lanjutnya, menggelar pelatihan secara daring bagi UMKM supaya bisa membuat APD. Khususnya masker kain atau masker nonmedis, yang juga menjadi upaya menekan permintaan pasar terhadap masker medis. 

Dengan begitu, pasokan masker medis tetap terjaga dan terprioritaskan bagi para tenaga medis serta pasien yang membutuhkan. “Kami berupaya menghubungkan UMKM dengan pemasok bahan baku dan menghubungkan mereka ke pasar,” jelasnya. 

Selain berperan sebagai kurator dan pengendali kualitas produk, kata Teten, Karya Nusantara juga membantu membuka pasar bagi UMKM pembuat produk APD yang meliputi hazmat kit, pelindung wajah, masker kain, sarung tangan, dan pelindung kaki. Kemenkop mengidentifikasi, banyak UMKM melakukan shifting usaha dari yang semula bergerak di bidang konveksi, termasuk produsen bendera, banting setir ke produksi APD.

“Skema yang kami lakukan yakni memetakan UMKM berdasarkan info masuk. Lalu kita identifikasi dengan melibatkan dinas serta asosiasi, dan setelahnya melakukan kurasi,” jelas dia.

Kementerian, sambungnya, bekerja sama pula dengan Kimia Farma dalam distribusi. Juga dengan Program Kemitraan Bina Lingkungan Bank Rakyat Indonesia (PKBL BRI). 

"UMKM yang memenuhi syarat kualitas dapat melanjutkan ke produksi APD. Meliputi hazmat, pelindung wajah, masker, pelindung kaki, dan sarung tangan," ujar Teten. Ia optimistis UMKM bisa memproduksi lebih banyak APD sepanjang pasokan bahan baku memadai. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement