Rabu 04 Mar 2020 16:24 WIB

Bio Farma Ingin Teliti Sampel Corona untuk Buat Vaksin

Sejauh ini, belum ada negara yang berhasil menciptakan vaksin virus corona.

Rep: M Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Direktur Utama PT Bio Farma (kiri) Honesti Basyir terus menjalin komunikasi dengan sejumlah lembaga penelitian seperti Balitbangkes Kementerian Kesehatan untuk membuat vaksin corona.
Foto: Republika/Prayogi
Direktur Utama PT Bio Farma (kiri) Honesti Basyir terus menjalin komunikasi dengan sejumlah lembaga penelitian seperti Balitbangkes Kementerian Kesehatan untuk membuat vaksin corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir terus menjalin komunikasi dengan sejumlah lembaga penelitian seperti Balitbangkes Kementerian Kesehatan untuk membuat vaksin corona. Honesti menyampaikan belum ada negara yang menemukan vaksin corona sampai saat ini. 

"Belum ada vaksinnya, semua masih dalam tahapan. Indonesia kan sudah ada yang positif, artinya kita sudah punya sampel virusnya. Makanya nanti kita sama Balitbangkes Kemenkes akan meneliti, semoga kita bisa bikin vaksin ke depan," ujar Honesti di Apotek Kimia Farma, Menteng, Jakarta, Rabu (4/3).

Baca Juga

Honesti menyampaikan China baru sebatas menemukan obat, bukan vaksin. Obat yang dibuat China, kata dia, terdapat unsur kina dan antiviral seperti obat yang digunakan untuk HIV. Honesti menilai apabila sudah berstatus pandemik, seluruh lembaga penelitian dunia akan melakukan koordinasi dengan WHO dalam mencari vaksin corona.

"Ini kan sudah isu global, artinya WHO akan turun tangan sehingga nantinya proses yang ada di masing-masing negara yang ada kasus, kita segera komunikasi," ucap Honesti. 

Bio Farma, kata Honesti, belum dapat melakukan penelitian untuk membuat vaksin lantaran sebelumnya belum ada kasus positif corona di Tanah Air. Dengan adanya kepastian dari pemerintah mengenai dua warga Indonesia yang positif, Biofarma ingin meneliti sampel virus tersebut.

"Selama ini belum ada kasus di Indonesia, jadi kita tidak bisa dapat sampelnya. Sekarang sudah ada, saya lagi koordinasi dengan Pak Menteri, kita mungkin akan diberi kesempatan untuk meneliti itu untuk kemungkinan nanti bisa dicarikan vaksinnya," ucap Honesti.

Honesti menyebut penelitian mencari vaksin corona memerlukan waktu sekira sepuluh hingga 15 tahun apabila benar-benar mulai dari awal. Bio Farma, kata Honesti, mencoba bekerja sama dengan lembaga penelitian yang sudah memulai lebih dahulu dalam mencari vaksin corona agar penemuan vaksin diharapkan bisa lebih cepat.

"Misal ada lembaga riset yang sudah tahap satu, tapi mungkin mereka tak punya kapasitas melanjutkan. Jadi memang harus ada koordinasi. Kalau seandainya sudah ada (lembaga penelitian) yang ke tahap dua, (penemuan vaksin) bisa dua sampai tiga tahun lebih cepat," kata Honesti menambahkan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement