Senin 17 Feb 2020 17:17 WIB

BKPM Pastikan Proyek Investasi China Tetap Berjalan

Investasi di Indonesia akan terdampak apabila kasus corona terjadi dalam waktu lama.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan berbagai proyek investasi China tetap berjalan.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan berbagai proyek investasi China tetap berjalan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan, berbagai proyek investasi China tetap berjalan. Termasuk rencana Yili Group membangun industri es krim terbesar di Tanah Air. 

Sebelumnya, perusahaan susu asal China itu menyatakan, ingin menjadikan Indonesia basis investasi utama produk susu dan makanannya di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN. "Boleh dong, (virus) corona nggak ngaruh, apa hubungannya corona dengan investasi?" ujar Bahlil saat ditemui Republika.co.id di Jakarta, Senin, (17/2).

Ia menegaskan, sampai saat ini, seluruh investasi China ke dalam negeri tidak terganggu. Sebab meski virus corona menyerang Negeri Tirai Bambu itu, namun para investor tetap berkomitmen. 

"Investasi terganggu kalau para tenaga ahli mereka (China) nggak bisa ke sini. Lalu mesin nggak bisa dibawa ke sini, atau mereka nggak bisa aktivitas," tutur Bahlil. 

maka kini, lanjutnya, pemerintah akan melihat sampai Maret mendatang. Jika hingga bulan tersebut wabah corona belum bisa diatasi, ia akan mengumumkan dampaknya terhadap realisasi investasi. 

"Tapi kalau bisa Maret sudah selesai atau clear. Nanti lihat Maret," tegasnya. 

Menurut dia bila kasus corona terjadi dalam waktu lama, dampaknya pasti akan terasa. Meski begitu Ia menambahkan, realisasi investasi sampai Januari 2020 dari berbagai investor masih berjalan normal. 

BKPM mencatat, China atau Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan negara asal investasi terbesar pada kuartal IV 2019. Nilai investasinya sebesar 1,4 miliar dolar AS atau 20,4 persen dari total investasi.

Disusul Hong Kong sebesar 1,1 miliar dolar AS (16,3 persen), Singapura 1,1 miliar dolar AS (16,1 persen), serta Jepang 1,1 miliar dolar AS (15,3 persen). Diikuti Belanda sebanyak 0,5 miliar dolar AS atau 7,1 persen dari total investasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement