Jumat 07 Feb 2020 06:15 WIB

BI Yakin Penghentian Produk dari China tak Pengaruhi Inflasi

Pemerintah menghentikan impor sejumlah produk dari China karena wabah corona

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menghentikan sementara barang impor dari China (Foto: ilustrasi makanan impor asal China)
Foto: Wikimedia
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menghentikan sementara barang impor dari China (Foto: ilustrasi makanan impor asal China)

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Bank Indonesia (BI) optimistis penghentian impor terhadap sejumlah produk dari China tidak akan memengaruhi inflasi. Pemerintah menerapkan kebijakan penghentian impor sementara terhadap sejumlah produk dari China menyusul meluasnya wabah virus corona.

"Kalau untuk inflasi kita yakin bahwa inflasi itu masih bisa kita atasi ya. Bagaimanapun juga itu kan yang banyak produk-produk China itu kan lebih banyak arahnya kepada sesuatu hal (seperti) elektronik yang murah dan lain-lain, itu enggak terlalu berpengaruh pada itu (inflasi, red)," kata Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto di Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (6/2).

Baca Juga

Erwin mengatakan hal itu kepada wartawan usai acara Penyerahan Program Sosial Bank Indonesia kepada sejumlah mitra binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto di Ruang Pamer Batik Pringmas, Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.

Bahkan, kata dia, merebaknya virus corona di China tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia karena tidak terlalu bergantung pada negara itu. "Indonesia beruntung juga karena kita kebergantungannya pada China itu tidak terlalu besar. Berbeda dengan misalnya negara seperti Thailand, kemudian Taiwan itu memang hubungannya sangat erat sekali. Kalau kita relatif sangat kecil kok dan apa yang kita lakukan sekarang ini ya tentu saja, justru dengan momentum ini, kita bisa menggunakan untuk kita lebih efisien lebih, lebih produktif, dan lain-lain," katanya.

Terkait dengan gejolak kenaikan harga bawang putih impor, Erwin mengatakan Bank Indonesia saat sekarang mulai mengembangkan bawang putih bekerja sama dengan perguruan tinggi. "Bawang merah kita sudah bisa memenuhi sendiri, bawang putih ini kita juga mulai mengembangkan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan petani-petani," tegasnya.

Dalam hal ini, kata dia, Bank Indonesia mencoba membuat klaster bawang putih dan jika berhasil akan direplikasikan di tempat lain. "Jadi kita sudah punya klasternya di Lhokseumawe, kemudian di sini ada juga di Banjarnegara. Kita kembangkan itu, jadi kita datangkan ahlinya itu dari IPB (Institut Pertanian Bogor), bagaimana cara bertani supaya mendapatkan bawang yang besar-besar," jelasnya.

Ia mengakui ukuran bawang putih lokal kalah dengan bawang putih yang diimpor dari China. Akan tetapi dari rasa, kata dia, berdasarkan pengakuan masyarakat, bawang putih lokal jauh lebih enak karena sedikit saja sudah berasa enak.

"Nah, sekarang ini yang sedang dikembangkan bagaimana caranya agar besarnya (bawang putih lokal) tetap sama dengan bawang putih China, bahkan kalau bisa lebih besar dengan rasa yang khas seperti yang di Indonesia itu," katanya.

Menurut dia, saat sekarang merupakan momentum bagus untuk mengembangkan bawang putih lokal namun semua itu butuh waktu. "Jadi, ini kita usahakan kecil dulu ya supaya transfer-transfer itu bisa berhasil. Nanti kalau berhasil, akan kita replikasikan ke tempat yang lain," tegasnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement