Selasa 14 Jan 2020 11:07 WIB

GPMT: Stok Jagung di Industri Pakan Ternak Terus Menipis

Ketahanan stok jagung rata-rata industri pakan hanya 35 hari-40 hari.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda
Jagung pipilan kering
Jagung pipilan kering

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengakui stok jagung yang dimiliki oleh para pelaku industri produsen pakan ternak mulai menipis. Saat ini, ketahanan stok jagung rata-rata industri pakan hanya 35-40 hari, jauh dari ketahanan stok normal selama 2-2,5 bulan.

"Stok jagung sejak bulan Desember memang sudah mulai menurun. Akibatnya volume pemakaian jagung lebih besar dari jagung yang masuk ke kita," kata Ketua Umum GPMT, Desianto Budi Utomo kepada Republika.co.id, Selasa (14/1).

Baca Juga

Ia menyatakan, rata-rata normal serapan jagung oleh GPMT dari stok lokal sekitar 500-600 ribu per bulan. Namun, akibat produksi yang sedang minim, realisasi serapan industri jauh di bawah itu. Adapun mayoritas pakan ternak yang diproduksi GPMT untuk ayam pedaging.

Saat ini, kalau pun terdapat pasokan jagung yang bisa diserap, harga jagung pipil kering kadar air 15 persen sudah menyentuh antara Rp 4.800 - Rp 5.050 per kilogram (kg), lebih tinggi dari harga normal. Desianto memprediksi, harga akan terus meningkat hingga musim panen.

"Akhir Januari nanti stok akan terus menipis dan harga akan naik karena akan ada perebutan stok jagung antara pabrik pakan dan peternak ayam petelur yang menggunakan jagung langsung untuk pakan," kata Desianto.

Menurut dia, dampak dari adanya penurunan stok, industri terpaksa mengurangi kadar jagung dalam pembuatan pakan ternak. Ia mengakui selama dua tahun terakhir harga jagung cukup tinggi sehingga kadar jagung dalam pakan ternak hanya 35-38 persen.

Sebelumnya, rata-rata kandungan jagung mencapai 50 persen. Adapun tahun 2020 ini, GPMT memperkirakan kadar jagung dalam pakan ternak bisa dinaikkan menjadi 40 persen. Adapun produksi pakan ternak tahun 2020 ini juga diprediksi akan tumbuh sekitar 5-6 persen menjadi 20,5 juta ton dari tahun lalu sekitar 19 juta ton.

Kenaikan produksi pakan itu dipicu oleh kemungkinan adanya konsumsi per kapita protein dari daging dan telur ayam di tahun 2020.

Oleh sebab itu, GPMT meminta pemerintah untuk lebih cermat dalam mengamankan pasokan jagung di dalam negeri. Bagi industri, kata Desianto, sebaiknya pemerintah terlebih dahulu mengamankan pasokan jagung untuk para peternak ayam mandiri di sentra-sentra produksi.

"Selamatkan dulu peternak mandiri, karena kalau terjadi persaingan perebutan jagung, bisanya peternak mandiri kalah saing dengan pabrikan," katanya.

Di sisi lain, GPMT juga tidak bisa meminjamkan stok jagung untuk para peternak mandiri. Sebab, GPMT memiliki tanggung jawab moral untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak yang bermitra langsung dengan industri. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement