Rabu 18 Dec 2019 10:27 WIB

Mentan Dorong Lampung Jadi Pusat Komoditas Buah Tropis

Mentan yang menjadikan Lampung provinsi percontohan tata kelola komoditas buah

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat kunjungan kerja di Kabupaten Lampung Tengah guna melakukan pelepasan ekspor nanas kaleng dan komoditas pertanian lainnya dan sekaligus panen pedet sapi PT Great Giant Pineapple dan PT Great Giant Livestock, kemarin Selasa ( 17/12).
Foto: Kementerian Pertanian
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat kunjungan kerja di Kabupaten Lampung Tengah guna melakukan pelepasan ekspor nanas kaleng dan komoditas pertanian lainnya dan sekaligus panen pedet sapi PT Great Giant Pineapple dan PT Great Giant Livestock, kemarin Selasa ( 17/12).

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG -- Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo bertekad mendorong menjadikan Provinsi Lampung sebagai pusat atau mentor khusus berbagai komoditas buah tropis sehingga buah yang diminati pasar dunia atau ekspor bisa dilihat percontohannya di provinsi tersebut. Guna meningkatkan kualitas produksi dan ekspor, Kementerian Pertanian (Kementan) turut melakukan penandatangan MoU dengan Gubernur Lampung.

"Kita merupakan negara pengekspor nenas terbesar yang ada di dunia dan harus bisa jadi kan Lampung sebagai mentor agar berbagai komoditas dari buah tropis yang diminati oleh dunia itu contohnya ada di Lampung," ungkap Syahrul saat kunjungan kerja di Kabupaten Lampung Tengah guna melakukan pelepasan ekspor nanas kaleng dan komoditas pertanian lainnya dan sekaligus panen pedet sapi PT Great Giant Pineapple dan PT Great Giant Livestock bersama Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dan Bupati Lampung Tengah, Loekman Djoyosoemarto, kemarin Selasa ( 17/12).

Syahrul optimis mewujudkan hal tersebut sebab Indonesia merupakan negara besar yang kaya raya, bukan hanya sebuah jargon. Provinsi Lampung sendiri merupakan daerah yang memiliki lahan yang subur sehingga potensi pengembangan komoditas sangat menjanjikan. Oleh karena itu, hal itu menjadi kekuatan yang tidak dimiliki negara lain.

"Kalo negara lain punya mangga atau mereka punya nanas tapi bedanya kita punya nanas yang tropis. Bukan nanas dengan matahari yang terus bersinar, bukan dengan nanas yang air tak kunjung habis . Mangga kita juga mangga tropis," ungkapnya.

Dengan kekuatan yang dimiliki negara ini, Mentan menyampaikan jika mengurusi pertanian itu tidak perlu merugi. Menurutnya pertanian itu sangat menjanjikan. Semua orang bisa akselerasi dan yang penting harus agresif untuk kepentingan rakyat .

"Alam sudah siap, rakyat banyak yang bisa bekerja tinggal bagaimana memberi energi untuk negri. Bapak dan ibu sekalian artinya negri ini untuk kita. Saya selalu berharap kita berhenti pura - pura mari kita serius untuk rakyat, masyarakat," cetusnya.

Selain buah tropis, Lampung juga sangat menjanjikan untuk pengembangan usaha peternakan khususnya sapi. Mengapa demikian? hal ini mengingat wilayah provinsi ini sangat strategis yang dapat dijadikan penyangga untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi wilayah Jabodetabek dan Sumatera.

Untuk Provinsi Lampung sampai dengan Desember 2019 capaian layanan Induk Bunting (IB) adalah sebanyak 293.406 ekor atau 146,7 persen dari target 200 ribu ekor dan capaian kebuntingan sebanyak 215.384 ekor atau 153,8 persen dari target 140 ribu ekor serta kelahiran sebanyak 112.107 ekor atau 100,10 persen dari target 112 ribu ekor.

"Dengan segala potensi ini, saya berharap Lampung bisa menjadi lokomotif baru bagi negeri," ucap Syahrul.

Sementara itu, Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi menyatakan siap menjemput tantangan yang diberikan Mentan Syahrul tersebut. Ia optimis dengan bisa mewujudkan Lampung sebagai mentor buah trobis karena adanya dukungan penuh dari Kementan.

"Pak Menteri Pertanian sangat memahami begitu besar potensi pertanian di Lampung, jadi secepat mungkin meningkatkan ekspor pangan," ujarnya.

"Kita memiliki banyak produk yang bisa cukupi kebutuhan tingkat nasional bahkan dunia. Oleh karna itu ini tinggal tunggu waktunya sehingga Lampung akan berjaya pada masa yang akan datang. Insyahallah ekspor Lampung berjaya," pinta Arinal.

Pada kesempatan ini, Direktur PT Great Giant Pineapple, Welly Sugiono melaporkan eksport yang dilakukannya tahun 2018 mencapai 17.000 kontainer dan di tahun ini kenaikannya masih di atas 17 ribu kontainer.

"Kemudian kita sudah kembangkan juga pada 2014 ekspor pisang dan ekspor nenas dan kita ini sudah di eksport ke Cina, Jepang, kemudian ke korea sudah di lakukan," ungkapnya.

Menurut Welly, dulu perusahaan sangat sulit untuk mendapatkan bahan yang akan diolah sehingga dikembangkanlah kerja sama dengan petani dan kerjasama ini dilakukan tanpa harus menambahin lahan contohnya di padang ada sekitar 460 ha.

"Memang masih belum maksimal kita masih membentuk badan mitra dengan petani -petani daerah. Dengan kemitraan ini yang kami tingkatkan adalah produktifitasnya, kualitasnya dan control penyakitnya," tukasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement