Kamis 05 Dec 2019 12:55 WIB

Kasus Asbestos Bedak Bayi, Johnson & Johnson Salahkan FDA

Johnson & Johnson menyalahkan FDA yang menuding bedak bayinya tercemar asbestos.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Reiny Dwinanda
Johnson & Johnson membantah tudingan FDA yang menyebut bedak bayinya terkontaminasi asbestos.
Foto: BBC
Johnson & Johnson membantah tudingan FDA yang menyebut bedak bayinya terkontaminasi asbestos.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan raksasa Johnson & Johnson, baru-baru ini menyalahkan FDA karena telah menakut-nakuti pelanggannya dengan menyebut ada asbestos (mineral metamorfosis berfiber) dalam bedak bayinya. Tuduhan itu terlontar meskipun pihak perusahaan sudah membersihkan bedak bayinya dari zat beracun.

 

Baca Juga

"Talk kami aman dan bebas asbestos," kata pernyataan dari perusahaan yang berbasis di New Jersey itu, seperti dilansir New York Post, Kamis (5/12).

Pihak perusahaan juga mengungkapkan bahwa uji tes terbaru telah dilakukan secara konsisten. Bahkan, mereka mendapatkan hasil yang bagus dari laboratorium penelitian independen yang ternama selama 40 tahun terakhir.

 

Pada Oktober 2019, Johnson & Johnson melakukan penarikan terhadap produk bedak bayinya, karena ada kemungkinan terkontaminasi asbestos. Penarikan tersebut menjadi kali pertama bagi perusahaan itu sejak berdiri.

Perusahaan raksasa farmasi itu menuturkan, kontaminasi sampel uji ataupun kesalahan analis kemungkinan menjadi pemicu bagi FDA (Badan pengawas obat dan makanan AS) untuk menemukan sejumlah kecil asbestos dalam sampel bedak. Itulah yang melatarbelakangi penarikan 33 ribu botol produk Johnson & Johnson di pasaran.

Ketika asbestos terhirup, zat ini dapat menyebabkan kanker. Asbestos juga dikatkan  dengan penyakit mematikan lainnya, seperti mesothelioma.

Lebih jauh, menurut Johnson & Johnson, dua laboratorium dari pihak ketiga telah melakukan sekitar 155 tes pembanding, termasuk terhadap bedak yang ditandai FDA. Hasilnya, tidak adanya asbestos dalam bedak bayinya.

Johnson & Johnson menuding kontraktor laboratorium yang disewa FDA, AMA Analytical Services, tidak bekerja sesuai standar. Menanggapi hal tersebut, juru bicara FDA, Lyndsay Meyer, beranggapan bahwa pihaknya tetap yakin dengan temuannya.

Menurut Meyer, metode pengujian lab yang berbeda dapat menghasilkan temuan yang beragam karena tidak sesuai standar industri untuk melakukan pendeteksian dan penghitungan serat asbestos. Dia menegaskan, hasil temuan juga bisa berbeda antara sampel karena serat tidak tersebar secara merata di seluruh bagian bedak.

 

"Kami percaya hasil positif pengujian yang kami temukan mengkhawatirkan dan menjamin tindakan yang diambil agensi untuk melindungi konsumen," kata Meyer.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement