Sabtu 30 Nov 2019 12:27 WIB

Apa Kunci Perusahaan Bertahan di Era Digital?

Mochtar Riady bercerita banyak perusahaan skala global satu persatu mulai mundur

Rep: Editor (swa.co.id)/ Red: Editor (swa.co.id)
Mochtar Riady di acara Indonesia Digital Conference di Grand Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat (Istimewa)
Mochtar Riady di acara Indonesia Digital Conference di Grand Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat (Istimewa)

Pendiri Lippo Grup Mochtar Riady bercerita bahwa banyak perusahaan skala global yang saat ini satu persatu mulai mengalami kemunduran, bahkan berpindah kepemilikan. Dia menilai hal ini terjadi karena perusahaan tak sensitif terhadap perubahan teknologi di era digital ini.

Menurut Mochtar Riady, selain tak sensitif terhadap perubahan teknologi, perusahaan juga gagal karena tidak sensitif pada perubahan ekonomi karena teknologi. Perusahaan juga bisa gagal karena tidak sensitif terhadap perubahan politik akibat perubahan ekonomi.

"Salah satu, mereka tidak sensitif saja terhadap hal itu, maka perusahaan akan lenyap," kata Mochtar Riady saat memberikan pidato dalam acara Indonesia Digital Conference di Grand Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis 28 November 2019.

Mochtar mencontohkan, di masa Hindia Belanda, hal serupa misalnya terjadi pada perusahaan gula. Saat masa jaya, pengusaha yang dikenal dengan Raja Gula tersebut memiliki aset hingga 200 juta gulden atau setara US$ 200 miliar saat ini. Namun, kini perusahaan bersama keluarga pendirinya tak lagi terdengar kabarnya.

Salah satu orang terkaya di Indonesia itu, juga menunjuk contoh sejumlah perusahaan otomotif seperti Nissan dan Mitsubishi yang 6 tahun lalu mesti dijual kepada Renault. Dua tahun lalu, perusahaan elektronik seperti Hitachi, Toshiba dan Sharp juga mesti menjual usaha mereka ke pengusaha Cina.

Selain itu, Mochtar Riady juga mencontohkan kejadian yang menimpa perusahaan armada dan taksi Bluebird yang mulai tergeser oleh Gojek dan Grab. Pada 2002 hingga 2007 silam, Bluebird masih menjadi perusahaan jasa layanan antar yang mendominasi pasar dan jalanan. Namun belakangan, dua tahun terakhir mulai ditinggalkan publik.

"Banyak perusahaan mengalami nasib yang beda karena beda teknologi ini. Karena itu, yang penting bagaimana untuk menyesuaikan dalam teknologi baru ini," kata Mochtar.

Mochtar Riady mengatakan, sebenarnya teknologi digital bukanlah barang baru. Sebab, teknologi digital telah berkembang sejak tahun 1946. Karena itu, menurut dia kurang tepat jika sekarang orang-orang terlalu sering bicara digital.

"Saya sarankan jangan terus memikirkan era digital seolah itu hebat. It is nothing. Tapi bagaimana cara memanfaatkan eradigital untuk perdagangan, administrasi birokrasi supaya semua lebih efisien," kata Mochtar Riady.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement