Rabu 20 Nov 2019 15:31 WIB

Kuartal III 2019, IPC Bukukan Laba Rp 2,21 Triliun

IPC akan mempertahankan tren kenaikan laba perusahaan.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya
Direktur  Utama Pelindo II Elvyn G Masassya.
Foto: Republika/Fauziah Mursid
Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC mencatat laba perusahaan sebesar Rp 2,21 triliun hingga kuartal ketiga 2019. Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya mengatakan laba perusahaan naik 18,38 persen dibandingkan dengan capaian kuartal ketiga 2018.

Sementara, pendapatan usaha mencapai Rp 8,56 triliun atau naik sebesar 2,41 persen dibandingkan capaian periode yang sama pada 2018. "IPC optimistis laba bersih tahun ini bisa melampai laba bersih perusahaan pada 2018 yang sebesar Rp 2,43 triliun," ujar Elvyn di Jakarta, Rabu (20/11).

Baca Juga

Elvyn menjelaskan, IPC akan fokus  mencermati peluang untuk memaksimalkan capaian revenue stream maupun throughput pada dua bulan terakhir 2019. "Tren kenaikan laba perusahaan harus dipertahankan," lanjut Elvyn.

Elvyn menilai dari sisi kinerja operasional, trafik arus peti kemas hingga kuartal ketiga tercatat sebesar 5,62 juta TEUs. Capaian ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 5,58 juta TEUs. Pun dengan arus nonpeti kemas yang terealisasi sebesar 43,2 juta ton.

"Angka ini naik 1,14 persen dibandingkan periode yang sama pada 2018 yang sebesar 42,7 juta ton," kata Elvyn.

Sementara itu, di sisi arus kapal yang keluar masuk pelabuhan, kata Elvyn, terjadi penurunan sebesar dua persen dari 158,3 juta GT menjadi 154,5 juta GT. Elvyn tidak menutup kemungkinan terjadinya penurunan ini berhubungan dengan melemahnya arus ekspor atau impor nasional.

Di sisi lain, IPC mencatat kenaikan arus penumpang, dari 505 ribu penumpang menjadi 905,5 ribu penumpang. Elvyn menyampaikan arus penumpang yang tumbuh 81,11 persen menunjukkan moda transportasi laut kembali menjadi alternatif.

"Ke depannya IPC akan melakukan moderninasi dan digitalisasi sarana dan prasarana di terminal penumpang," ucap Elvyn.

Menurut Elvyn, IPC juga terus mengembangkan ekosistem kepelabuhanan untuk memperkuat peran strategis IPC sebagai Trade Facilitator. Semua ini nantinya bermuara pada penurunan biaya logistik sebagaimana yang menjadi target pemerintah. Misalnya saja, akses tol pelabuhan dari atau menuju kawasan industri, yang pengerjaannya terus dikebut.

"InsyaAllah beberapa ruas Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) ada yang bisa beroperasi pada pertengahan 2020," kata Elvyn.

Elvyn menambahkan, IPC juga tengah menyiapkan pembangunan dermaga di kanal Cikarang Bekasi Laut (CBL), setelah Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR kembali mematangkan rencana pelebaran dan pendalaman kanal CBL sebagai aksesnya.

Di kancah global, lanjut dia, IPC terus berkolaborasi dengan perusahaan pelayaran dunia dengan melayani kapal-kapal besar untuk melakukan pelayaran langsung dari Indonesia ke semua benua. Saat ini, kata Elvyn, rata-rata ada 8 kapal ukuran raksasa dengan kapasitas 10 ribuan TEUs yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok setiap bulan.

Kapal-kapal itu membawa barang-barang ekspor maupun impor secara langsung ke negara tujuan. "Yang terbaru adalah layanan direct call (pelayaran langsung) ke Rusia. Sebelumnya belum pernah ada pelayaran kapal besar langsung dari dan ke Rusia," ucap Elvyn.

Elvyn menilai peningkatan layanan pelayaran lamgsngt akan membuat harga barang ekspor semakin memiliki daya saing. "Sebaliknya, harga barang impor semakin turun karena ongkos logistiknya yang semakin rendah," kata Elvyn menambahkan.

Berita Lainnya

Rekomendasi