Kamis 14 Nov 2019 16:31 WIB

Rokhmin: 3 Alasan Tingkatkan Ekspor Perikanan ke Korsel

Korsel adalah importir perikanan terbesar kesembilan di dunia.

Para nara sumber dan penyelenggara
Foto: Dok Rokhmin Dahuri
Para nara sumber dan penyelenggara "2019 International Seafood Trade Forum".

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Korea Selatan (Korsel)  menjadi salah satu negara paling potensial bagi ekspor perikanan Indonesia. “Paling tidak, ada tiga alasan utama mengapa Korsel  menjadi salah satu negara paling menjanjikan bagi Indoesia untuk meningkatkan ekspor perikanan,” kata pakar kelautan dan perikanan, Prof  Dr Ir Rokhmin Dahuri MS pada “2019 International Seafood Trade Forum” yang diadakan Korea Maritime Institute di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (14/11).

Alasan pertama, kata Rokhmin, Korsel adalah negara maju dan kaya dengan konsumsi ikan per kapita yang sangat tinggi. “Tingkat konsumsi ikan rakyat Korsel  mencapai 51,8 kg/kapita/tahun,” kata Rokhmin yang membawakan makalah berjudul “Structure of Seafood Trade and Strategies to Enhance Cooperation Between Indonesia and Korea”.

Kedua,   kata Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University itu, Korsel  adalah  importir produk ikan dan perikanan terbesar kesembilan di dunia dengan tren yang meningkat.

“Ketiga,  Indonesia dan Korea telah menandatangani MoU sebagai mitra strategis khusus sejak 2017,” kata Rokhmin dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

photo
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu mengungkapkan strategi bagi Indonesia untuk mendorong ekspor perikanan ke Korea meliputi: (1) meningkatkan daya saing produk perikanan dan perikanan (mutu terbaik, harga relatif lebih murah, dan pasokan reguler dan berkelanjutan); dan (2) memenuhi semua persyaratan yang fair seperti keamanan pangan, keterlacakan, dan keberlanjutan.

“Selain itu, Indonesia harus meningkatkan penetrasi pemasaran  ke konsumen dan pasar Korsel melalui berbagai cara, seperti partisipasi dalam Busan Seafood Expo,” kata mantan menteri kelautan dan perikanan di era Kabinet Gotong Royong (2001-2004) itu.

Sementara strategi untuk  menarik investasi Korsel   ke Indonesia, kata Rokhmin, meliputi: (1) melonggarkan hambatan tarif dan non-tarif; (2) investasi di bidang akuakultur, industri pengolahan ikan, dan industri bioteknologi akuatik di Indonesia; dan (3) peningkatan ekspor produk perikanan khusus (mempunyai keunikan), peralatan dan teknologi inovatif (industri 4.0) ke Indonesia.

“Indonesia juga harus memperkuat koperasi dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan litbang di bidang perikanan dan yang terkait dengan laut,” ujar Duta Kehormatan Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, Korsel.

Rokhmin memaparkan, pada tahun 2016, total produksi ikan  Korsel  mencapai  3,255 juta ton, sedangkan total konsumsi ikan rakyat Korsel mencapai  2,9 juta ton.“Berdasarkan total produksi di atas dan total konsumsi ikan, Korsel  mengalami surplus ikan. Namun, Korsel masih mengimpor ikan  sebagai bahan baku untuk industri pengolahan ikan,” paparnya.

photo
Suasana "2019 International Seafood Trade Forum" yang diadakan oleh Korea Maritime Institute.

Ia juga menegaskan, perdagangan memainkan peran utama dalam sektor perikanan dan akuakultur di negara mana pun di dunia sebagai pencipta lapangan kerja, pemasok makanan, penghasil pendapatan, keamanan pangan dan gizi, dan kontributor pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. “Ini terutama berlaku untuk negara-negara berkembang,  termasuk Indonesia,” tuturnya.

Indonesia, kata Rokhmin,  adalah produsen ikan terbesar kedua di dunia, setelah China. Namun, Indonesia sejauh ini hanya pengekspor ikan dan produk perikanan terbesar ke-14 di dunia.

“Ini berarti Indonesia memiliki ruang besar untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor perikanan untuk menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah Cina, menggantikan Vietnam,” kata Rokhmin.

Saat ini, sekitar 50.000 orang Korsel  tinggal di Indonesia, sedangkan sekitar 60.000 orang Indonesia bekerja dan tinggal di Korsel. “Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-10 Korea Selatan, sedangkan Korea Selatan adalah mitra dagang terbesar ke-6 di Indonesia,” papar Rokhmin Dahuri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement