Kamis 31 Oct 2019 09:07 WIB

Perundingan Kesepakatan Dagang AS-China Kembali Buntu

AS dan China menargetkan perjanjian perdagangan tahap pertama bisa diteken November

Rep: Adinda Pryanka/Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.
Foto: AP Photo/File
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Para pemimpin dari Amerika Serikat dan China menghadapi hambatan baru dalam perjuangan mereka untuk mengakhiri perang dagang. Sebab, pertemuan puncak di mana mereka seharusnya bertemu dibatalkan seiring dengan protes keras di Cile.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, pekan ini, ia berharap untuk menandatangani kesepakatan perdagangan sementara dengan Perdana Menteri China Xi Jinping selama KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik pada 16-17 November di Cile.  Tapi, para pejabat Cile mengatakan, mereka membatalkan pertemuan puncak untuk fokus memulihkan hukum dan ketertiban di negara itu.

Baca Juga

Setelah pembatalan ini, Gedung Putih menyebutkan, pihaknya  berharap dapat menandatangani perjanjian perdagangan awal dengan China pada bulan depan. Tapi, dilansir di Reuters, Kamis (31/10), belum ada lokasi alternatif yang ditetapkan untuk pertemuan Xi dan Trump.

"Kami menantikan finalisasi Fase Pertama dari kesepakatan perdagangan bersejarah dengan China dalam jangka waktu yang sama," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan resmi.

Saat ini, perunding dari AS dan China telah berlomba untuk menyelesaikan teks perjanjian 'tahap pertama' untuk segera ditandatangani Trump dan Xi bulan depan.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan, diskusi AS dengan China sejauh ini produktif. Pekerjaan untuk menyelesaikan teks dari perjanjian terus berlanjut.

Atas pembatalan ini, Gedung Putih bermaksud menawarkan beberapa lokasi di AS sebagai alternatif untuk KTT APEC, menurut satu sumber yang akrab dengan pemikiran AS.  Dua lokasi yang ditawarkan dan berpotensi diterima China adalah Alaska dan Hawaii.

Gedung Putih tidak segera mengomentari lokasi alternatif.  Tapi, para pakar perdagangan mengatakan, mengumpulkan acara KTT pengganti dengan pemberitahuan yang relatif singkat ini akan sulit dilakukan. Sebab, KTT melibatkan 21 pemimpin negara.

"Itu tugas besar, dan memindahkan satu dengan pemberitahuan dua minggu sama sekali tidak mungkin," kata mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional dan penasihat di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Matthew Goodman.

Goodman menilai, sikap Gedung Putih jelas menandakan bahwa mereka benar-benar menginginkan bilateral Trump-Xi untuk terus dilaksanakan.  Tetapi, tampaknya akan lebih realistis apabila kedua negara mengirimkan menteri perdagangan atau duta besar untuk menandatangani kesepakatan 'fase pertama.

Meski pertemuan di KTT dibatalkan, Michael Hirson dari konsultan Grup Eurasia masih melihat peluang 70 persen mencapai kesepakatan pada akhir tahun. "Kedua pemimpin memiliki insentif untuk menjaga pembicaraan pada jalurnya, menghindari eskalasi lebih lanjut yang menimbulkan risiko ekonomi dan politik," tulisnya dalam catatan analis.

Sejauh ini, belum ada pertemuan internasional yang jelas dalam waktu dekat di mana Trump dan Xi dapat bertemu. Sebab, Trump tidak menghadiri KTT Asia Timur di Thailand pada pekan depan, kata seorang diplomat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement