REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengukuhkan tiga Profesor Riset yang menjadi jenjang tertinggi dalam jabatan fungsional peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Penelitian ketiga profesor ini diharapkan berkontribusi terhadap kebijakan pengembangan argoindustri.
Ketiga peneliti yang dikukuhkan yakni Dr Ali Asgar untuk bidang teknologi pasca panen, Dr Sholihin untuk bidang pemuliaan dan genetika tanaman serta Dr Sukarman pada bidang pedologi dan penginderaan jarak jauh. Ketiga peneliti tersebut masing-masing merupakan profesor riset ke 523, 524, dan 525 secara nasional.
Ali Asgar dalam orasinya berjudul "Inovasi Teknologi Pascapanen Kentang untuk Pengembangan Agroindustri" menuturkan, telah berhasil mengembangkan inovasi cara penyimpanan dan pengemasan ubi kentang. Inovasi itu dilahirkan untuk menekan tingkat kehilangan hasil panen sekaligus menjaga kualitas.
Selain itu, Ali juga mengembangan produk diversifikasi, substitusi, pangan fungsional dan evaluasi kualitas. Hasil penelitiannya memberikan kontribusi untuk upaya mendayagunakan sumberdaya lokal sekaligur menekan ketergantungan terhadap kentang impor.
"Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi terhadap kebijakan pengembangan argoindustri skala kecil hingga komersial," kata Ali di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/10).
Kandidat profesor riset kedua, Sholihin, melalui orasinya berjudul "Inovasi Varietas Unggul Ubi Kayu sebagai Kunci Mendukung Keberlanjutan dan Peningkatan Daya Saing Agroindustri" menyampaikan, telah merakit lima varietas unggul ubi kayu.
Dengan inovasi varietas itu didapatkan keunggulan produktivitas sekitar 10-31 persen lebih tinggi dari varietas sebelumnya. Peningkatan produktivitas itu dapat secara langsung meningkatkan nilai tambah ubi kayu sekitar Rp 35-129 triliun.
"Pengembangan inovasi ini akan meningkatkan daya saing bertanam ubi kayu sehingga keberlanjutan industri berbahan baku ubi kayu akan terjaga," kata Sholihin.
Dampak dari peningkatan daya saing itu diharapkan pemutusan tenaga kerja dan nilai impor olahan ibu kayu Indonesia bisa berkurang sehingga petani lokal lebih sejahtera. "Pengembangan inovasi ini juga akan membuka lapangan kerja baru. Ini sejalan dengan keinginan presiden untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya," ujar dia.
Adapun kandida ketiga, Sukarman dalam orasinya "Akselerasi Inovasi Pedologi dalam Optimalisasi Penggunaan Tanah Vulkanik Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan" mengatakan, telah menghasilkan inovasi pedologi tanah vulkanik berupa peta tanah, peta kesesuaian lahan dan rekomendasi pengelolaan.
Ia mengatakan, peta-peta rekomendasi tersebut telah disebarluaskan dan disosialisasikan pada instansi terkait di masing-masing kabupaten/kota dan menjadi bahan dasar penyusunan revisi RTRW kabupaten/kota.
"Penerapan inovasi pedologi tersebut diharapkan berdampak positif terhadap lahan pertanian tanah vulkanik sehingga lahan tersebut dapat dimanfaatkan secara lestari dan berkesinambungan," kata dia.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi gagasan dari ketiga profesor tersebut. Ia meminta agar ketiganya dapat berkolaborasi dan bersinergi dalam Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR). Di satu sisi, para profesor riset diharapkan menjadi pembina dan motivator bagi para peneliti muda yang ada saat ini.
"Sinergi ini tidak saja akan menjadi model bagi peneliti lainnya, tapi secara konkret dapat menjawab berbagai permasalahan riil yang dihadapi petani saat ini," kata dia.