Jumat 18 Oct 2019 06:14 WIB

Penerbitan Obligasi Korporasi Diperkirakan Capai Rp 175 T

Per Oktober 2019, emisi obligasi korporasi baru menyentuh Rp 94 triliun.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Petugas memantau pergerakan grafik surat utang di di Dealing Room Treasury.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Petugas memantau pergerakan grafik surat utang di di Dealing Room Treasury.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) memperkirakan penerbitan surat utang atau obligasi korporasi pada 2020 akan mulai bertumbuh. Kisaran emisi obligasi tahun depan diprediksi mencapai Rp 155 triliun hingga Rp 175 triliun.

Per Oktober 2019, emisi surat utang korporasi baru menyentuh Rp 94 triliun. Hingga akhir tahun, penerbitan surat utang pun diprediksi hanya menyentuh kisaran Rp120 triliun sampai Rp130 triliun.

Baca Juga

Menurut Direktur PHEI, Wahyu Trenggono, alasan korporasi untuk menahan penerbitan surat utang selama 2019 cukup beralasan karena merupakan tahun pemilu. "Tahun pemilu penuh ketidakpastian sehingga korporasi tidak berani untuk melakukan ekspansi," kata Wahyu, kemarin.

Wahyu menjelaskan, kondisi yang sama juga pernah terjadi pada tahun pemilu 2014. Pada saat itu, korporasi cenderung menahan penerbitan surat utang. Korporasi lebih banyak melakukan refinancing untuk menutup utang yang sudab jatuh tempo.

Biasanya, lanjut Wahyu, korporasi mulai menerbitkan surat utang usai tahun pemilu. Jumlah emisi obligasi yang diterbitkan bahkan mencapai dua kali lebih tinggi dari surat utang yang jatuh tempo.

Tren tersebut tercermin pada kondisi di 2015 setelah tahun pemilu. Pada saat itu, surat utang yang jatuh tempo sebesar Rp36 triliun sedangkan yang diterbitkan mencapai Rp63 triliun. Hal ini pula yang kemungkinan akan terjadi di 2020 mendatang.

Kendati demikian, menurut Wahyu, kenaikan penerbitan surat utang di 2020 tidak akan bisa dua kali lipat. Hal tersebut lantaran kondisi ekonomi global tahun depan diprediksi masih tidak stabil.

"Hanya saja saat 2015 kondisi ekonomi tidak segalau saat ini, terutama kondisi globalnya. Ekonomi Cina waktu itu memang sudah turun tapi masih stabil," tutur Wahyu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement